BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bronchitis adalah salah satu
penyakit pada paru-paru yang peradangannya menyerang bronchus dengan prevalensi
kesakitan di Indonesia cukup besar jumlahnya. Hal ini disebabkan karena
peningkatan pertumbuhan industri yang mengakibatkan terjadinya polusi udara,
juga meningkatnya angka perokok terutama di usia remaja dan produktif. Biasanya
penyakit bronchitis ini mengalami batuk-batuk kering, nafas agak sesak
lama-kelamaan batuk disertai juga adanya peningkatan suhu tubuh.
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan berperan
membantu klien penyakit ini dengan memberikan asuhan keperawatan yang
komprehensif sehingga kebutuhan dasar klien yang terganggu dapat ditanggulangi.
B.
Tujuan
Memberikan gambaran asuhan
keperawatan pada pasien Bronchitis.
C. Metode
Penulisan
Penulisan makalah asuhan keperawatan
ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan membaca buku-buku sumber yang
berkaitan dengan penyajkit bronchitis.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Definisi
yang banyak dianut sa’at ini adalah yang dikemukakan oleh The American Thoracic
Sosiety(1962):”Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons
trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan menifestasi adanya
penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah,baik secara
spontan maupun sebagai hasil pengobatan”.
Bila ditelaah lebih
lanjut definisi tadi dapat di uraikan menjadi :
1. Ada
peningkatan respons trakea dan bronkus. Hal ini berarti bahwa jalan napas
penderita asma mempunyai respons yang lebih hebat terhadap barbagai rangsangan
dibandingkan dengan orang normal.
2. Seraban
asma jarang sekali hanya dicetuskan oleh satu macam rangsangan,tetapi oleh berbagai
rangsangan.
3. Kelainan
tersebar luas pada kedua paru dan tidak hanya satu paru atau satu lobus paru.
4. Dearajat
serangan asma dapat berubah-ubah,misalnya obtruksi lebih berat pada malam hari
dibandingkan dengan siang hari.
( buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid
II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :21)
B. PATOFISIOLOGI
Untuk
penanggulangan asma, diperlukan pemahaman mekaanisme dan fatofisiologi obtruksi
saluran napas. Kesalahan dalam mendiagnosis dan menilai berat asma bukanlah hal
yang jarang terjadi sehingga hasil pengobatannya tidak selalu memuaskan.
Ada 2 golongan penyakit obstruksi saluran nafas,yaitu :
a. Asma
atau penyakit obstruksi saluran napas yang reversibel.
b. Penyakit
obstruksi saluran napas menahun yaitu bronkitis kronik dan emfisema.
pada
berapa penderita,ketiga penyakit obstruksi saluran napas tersebut sukar
dibedakan satu dari yang lain karna semuanya mempunyai patofisiologi yang sama.
Dari ketiga penyakit tersebut ,asma bronkial mempunyai prognosis yang terbaik
apabila ditangani dengan baik, tetapi bila tidak ,dapat menjadi penyakit
obstruksi saluran napas yang menahun.
Pengertian
bronkitis menahun merupakan diagnosis klinis,emfisema merupakan diagnosis
anatomis dan asma lebih bersifat fisiologis,kesukaran dalam menentukan diagnosis
sering terjadi,oleh karna ada tumpang tindih antara ketiga penyakit tersebut
baik klinis, empisema
merupakan diagnosis anatomis dan asma lebih bersifat fisiologis,kesukaran dalam
menentukan diagnosis sering terjadi oleh karna ada tumpang tindih antara ketiga
penyakit tersebut baik klinis,radiologis maupun fisiologis.
Sifat-sifat obstruksi saluran napas.
Asma
|
Bronchitis
kronik
|
emfisema
|
|
·
Reversibilitas
·
Alergi
·
hiperreaktivitas
bronkus
·
respon
terhadap bronkodilator
·
respon
terhadap steroid
|
+
+
+
+
+
|
+
+
+
+ + |
_
_ _ + _ |
( buku Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :27)
C.
EPIDEMIOLOGI
Arti epidemiologi sebenarnya ialah that which is upon
the people.tujuan penelitian epidemiologi adalah untuk mengetahui berat permasalahan
penyakit dalam masyarakat,insidensi dan prevalensi penyakit,factor-faktor yang
berperan dalam mortalitas serta fatogenesis penyakit.disamping itu hasil
penelitian epidemiologi dapat pula menilai efficacy ,effectiveness dan
efficiency suatu cara pengobatan dan pencegahan penyakit yang berguna dan dapat
dimanfaatkan seluruh umat manusia yang hidup dalam lingkungan yang
berbeda-beda.
Oleh
karna asma jarang menimbulkan kematian,angka mortalitas tidak banyak membantu
menjelaskan patogenesis penyakit.studi insidensi juga hanya memberikan
keterangan tentang frekuensi episode akut yang terjadi dalam kondisi tertentu
saja ,sedangkan onset asma tidak selalu dapat dikenal dengan jelas.
Oleh karna itu penelitian epidemilogi asma lebih
banyak diarahkan terhadap penentuan prevalensi.
Factor-faktor yang mempengaruhi prevalensi :
1.
Anak
2.
Dewasa
3.
Kelamin
4.
Atopi
5.
Factor
bangsa
6.
Factor
genetic dan pejamu
7.
Perjalanan
penyakit dan factor-faktor yang berpengaruh
8.
Pengaruh
lingkungan
9.
Factor
psikologik
( buku Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :21)
D.
Manifestasi
klinis
Pada penderita yang sedang bebas serangan tidak
ditemukangejala klinis,sedangkan pada waktu serangan tampak penderita benafas
cepat dan dalam,gelisah,duduk dengan tangan menyangga ke depan serta tampak
otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras.
Gejala asma yang klasik terdiri atas batuk,sesak dan
wengi (wheezing) dan pada sebagian penderita disertai rasa nyeri di dada.
Gejala-gejala tersebut tidak selalu terdapat bersama-sama. Ada penderita yang
hanya batuk tanpa rasa sesak,atau sesak dan wengi saja sehingga ada beberapa
tingkat penderita asma sebagai berikut:
1.
Tingkat
pertama,yaitu penderita asma yang secara klinis normal,tanpa kelainan pemeriksaan
fisis maupun kelainan pemeriksaan fungsi parunya.pada penderita ini timbul
gejala asma bila ada factor pencetus baik secara didapat,secara alamiah maupun
dengan tes provokasi bronchial di laboratorium.
2.
Tingkat
kedua adalah penderita asma tanpa keluhan dan tanpa kelainan pada pemeriksaan
fisisnya,tetapi fungsi parunya menunjukan tanda-tanda obstruksi jalan
napas.penderita golongan ini banyak dijumpai terutama setelah sembuh dari
serangan asmanya.
3.
Tingkat
ketiga adalah penderita asma tanpa keluhan tetapi pada pemeriksaan fisis maupun
pemeriksaan fungsi paru menunjukan tanda obstruksi jalan napas.penderita ini
sudah sembuh dari asmanya,tetapi bila tidak meneruskan pengobatannya akan mudah
mendapat serangan asma kembali.
4.
Tingkat
keempat adalah penderita asma yang paling sering dijumpai baik dalam praktik
sehari-hari maupun di rumah sakit,penderita mengeluh sesak nafas,batuk dan
napas berbunyi.pada pemeriksaan fisis maupun pemeriksaan spirometri akan
ditemukan tanda-tanda obstruksi jalan napas. Penderita tingkat ini terbagi atas
beberapa tingkat atau derajat.
Banyak klasifikasi untuk
menentukan beratnya asma baik secara klinis,spirometrik,analisis gas darah
maupun gabungan ketiganya.
Table 5.derajat berat sama
berdasarkan aktivitas jasmani
Derajat
|
Keadaan
klinis/kemampuan aktivitas jasmani
|
I
II
III IV |
A.
Dapat bekerja
dengan agak susah.tidur kadang-kadang terganggu
B.
Dapat bekerja
dengan susah payah. Tidur seri g kali terganggu
A.
Tiduran/duduk,bias
bangun denan agak susah.tidur terganggu.
B.
Tiduran/duduk,bias
bangun dengan susah payah.nadi >120/menit.
Tiduran/duduk,tidak bias bangun. Nadi >120/menit.
Pasien tidak dapat bergerak lagi dan kelelahan.
|
Keterangan: penderita derajat IIA sebaiknya dirawat di
rumah sakit.
5.
Tingat
kelima adalah status asmatikus,yaitu suatu keadaan darurat medis berupa
serangan asma akut yang berat bersifat refrakter sementara terhadap pengobatan
yang lazim dipakai.karna pada dasarnya asma merupakan penyakit obstruksi jalan
napas yang reversible,maka segala daya harus dikerahkan untuk mengatasi keadaan
ini.
Pentingnya meneliti klasifikasi berat asma selain
untuk menilai kemajuan pengobatan juga untuk menentukan indikasi perawatan dan
tindakan-tindakan lanjut bila diprlukan.karna pemeriksaan klinis kadang-kadang
kurang tepat,maka diperlukan pemeriksaan tambahan seperti spirometri dan
analisis gas darah.
( buku Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :31)
E.
Diagnosis
Umumnya diagnosis asma tidak sulit,terutama bila
dijumpai gejalaklasik seperti sesak nafas,batuk dan mengi.serangan asma dapat
timbul berulang-ulang,dengan masa remisi diantaranya. Serangan dapat cepat
hilang dengan pengobatan,tetapi dapat juga hilang ssendiri secara sepontan.asma
juga bisa menjadi kronik sehingga keluhan berlangsung terus menerus.
Adanya riwayat asma sebelumnya,riwayat penyakit
alergik seperti rintis alergik,dan keluarga yang menderita penyakit
alergik.dapat memperkuat dugaan penyakit asma.selain hal-hal diatas ,pada
anamnesis perlu ditanyakan mengenai factor pencetus serangan.
Penemuan pada pemeriksaan fisis penderita asma
tergantung dari derajat obstruksi jalan nafas.ekspirasi memanjang
,mengi,hiperinflasi dada,takikardia,pernafasan cepat sampai sianosis dapat
dijumpai pada penderita asma dalam serangandalam peraktek tidak sering
ditemukan kesulitan dalam menegakkan diagnosis asma ,tetapi banyak pula
penderita yang bukan asma menimbulkan mengi sehinga diperlukan
penunjang.pemeriksaan penunjang yang penting dalam asma adalah sebagai berikut:
1.
Spirometri
untuk menunjukan adanya obstruksi jalan napas reversible.
Cara yang paling cepat dan sederhana untuk diagnosis
asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan
spirometri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator
aerosol(inhaler atau nebulizer) golongan adrenergic.
Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk
menegakkan diagnosis ,tetapi juga penting menilai berat obstruksi dan efek
pengobatan. Kegunaan spirometer dapat disamakan dengan tensimeter pada hipertensi
atau glukometer pada diabetes mellitus. Banyak penderita asma tanpa
keluhan,tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukan obstruksi. Hal ini akan
mengakibatkan mudahnya serangan asma timbul kembali bahkan menjadi kronik, yang
dapat berlanjut menjadi penyakit paru obstruksi menahun.
2.
Tes
provokasi bronchial untuk menunjukan adanya hiperreaktivitas bronkus.
Jika pemeriksaan spirometri normal, untuk menunjukan
adanya hiperreaktivitas bronkus harus dilakukan tes provokasi. Tes tersebut
tidak dilakukan bila obstruksi jalan napas yang reversible dapat dilakukan
dengan cara yang telah dikemukakan sebelumnya.
Ada berapa cara untuk melakukan tes provokasi
bronchial seperti tes provokasi histamin, metakolin, allergen, kegiatan
jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin bahkan inhalasi dengan aqua destilata.
3.
Pemeriksaan
tes kulit.
Tujuan tes kulit yaitu untuk menunjukan adanya
antibody IgE yang spesifik dalam tubuh.tes ini hanya menyokong anamnesis,karena
allergen yang menunjukan tes kulit positif tidak selalu merupakan penyebab
asma,sebaliknya tes kulit yang negatif tidak selalu berarti tidak ada factor
kerentanan kulit. Hal yang akhir dapat disebabkan oleh pemberian antihistamin
sebelum tes dan sebagainya.
4.
Pemeriksaan
kadar IgE total dan IgE spesifik dalam serum.
Kegunaan pemeriksaan IgE total tidak banyak dan hanya
untuk menyokong adanya penyakit atropi. Pemeriksaan IgE spesifik lebih berarti
dan dilakukan terutama bila tes kulit tidak dapat dikerjakan atau jika hasilnya
kurang dapat dipercaya.
5.
Pemeriksaan
radiologi
Pada umumnya pemeriksaan foto dada penderita asma
adalah normal. Pemeriksaan tersebut dilakukan bila ada kecurigaan terhadap
proses patologik di paru atau komplikasi asma seperti pneumotoraks ,
pneumomediastinum, atelektasis dan lain-lain.
6.
Analisis
gas darah.
Pemeriksaan analisis gas darah hanya dilakukan pada
penderita dengan serangan asma berat. Pada keadaan tersebut dapat terjadi
hipoksemia, hiperkapnia dan asidosis respiratorik.
7.
Pemeriksaan
eosinofil total dalam darah.
Pada penderita asma,jumlah eosinofil total dalam darah
sering meningkat. Selain dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan cukup
tidaknya dosis kortikosteroid yang di perlukan penderita asma,jumlah eosinofil
total dalam darah dapat membantu untuk membedakan asma dari bronchitis kronik.
8.
Pemeriksaan
sputum
Disamping untuk melihat adanya eosinofil,Kristal
charcot leyned,spiral churschmann, pemeriksaan sputum penting untuk menilai
adanya miselium aspergilus fumigates.
( buku Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :32-33)
F.
Komplikasi
asma
1.
Pneumotoraks
2.
Pneumomediastinum
dan emfisema subkutis
3.
Atelaktasis
4.
Aspergilosis
bronkopulmoner alergik
5.
Gagal
nafas
6.
Bronchitis
7.
Fraktur
iga
G.
Pengobatan
dan pencegahan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
1.
Menghilangkan
obstruksi jalan napas dengan segera.
2.
Mengenal
dan menghindari factor-faktor yang dapat mencetus serangan asma.
3.
Memberikan
penerangan kepada penderita atau keluarganya mengenai penyakit asma,baik dalam
cara pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya, sehingga penderita
mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerja sama dengan dokter yang
merawatnya.
Ketiga prinsif diatas semuanya bertujuan agar fungsi
paru penderita normal atau mendekati normal sehingga penderita dapat melakukan
aktivitas sehari-harinya dengan baik.
Penderita yang datang dalam keadaan sesak, apa pun
penyebabnya harus segera ditanggulangi. Jenis obat yang diberikan bergantung
pada riwayat pengobatan sebelumnya serta derajat berat penyakit.
Secara kliniks asma dapat dibagi berikut :
1.
Asma
akut intermiten
2.
Asma
akut dan status asmatikus
3.
Asma
kronik persisten.
( buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid
II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :34)
β 2-agonis merupakan salah satu obat utama dalam
pengobatan asma bronchial. Bentuk aerosolnya adalah obat plihan utama untuk
mengatasi serangan akut. Bentuk ini juga efektif untuk profilaksis serangan
akibat hawa dingin atau olah raga,tetapi pasien perlu dilatih untuk menggunakan
aerosol dengan teknik yang benar, karna hal ini sangat menentukan keberhasilan
terapi. Sediaan oral menimbulkan lebih banyak efek samping kardiovaskuler dan
sentral,karna itu tidak dianjurkan digunakan pada pengobatan asma kecuali untuk
pasien yang tidak mau/mampu menggunakan aerosol.
Tetapi parentral dengan terbutalin, kadang-kadang
dikombinasikan dengan bentuk aerosol , di gunakan untuk asma refrakter berat
yang tidak responsif dengan pengobatan lain.
β.2 agonis seringkali diberikan pada pasien
PPOM(penyakit paru obstruktif menahun) yang mempunyai komponen bronkokontriksi
yang reversible, tetapi tidak smua pasien memberikan respons yang baik terhadap
obat ini.karna itu,efektivitasnya harus dinilai sebelum digunakan untuk
pengoobatan jangka panjang.
(buku ;FARMAKOLOGI DAN TERAPI EDISI 5(cetak ulang
dengan tambahan,2012),Sulistia Gan Gunawan,2007,Jakarta,departemen farmakologi
dan terapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia,halaman 81)
BAB
III
KONSEP
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ASMA
A. Pengkajian
1. Aktivitas/istirahat
Gejala: keletihan,kelelahan,malaise.
Ketidak mampuan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari karna sulit bernafas.
Ketidak
mampuan utuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi.
Dispnea
pada sa’at istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.
Tanda:
keletihan,gelisah,insomnia,kelemahan umum/kehilangan masa otot.
2. Sirkulasi
Gejala: pembekakan pada
ekstremitas bawah.
Tanda:
peningkatan TD,peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat,disritmia.Distensi
vena leher(penyakit berat), edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung, bunyi jantung
redup(yang berhubungan
dengan peningkatan diameter AP dada), warna kulit/membran
mukosa:normal/abu-abu/sianosis:kuku tabuh dan sianosis perifer, pucat pada menunjukan anemia.
3. Integritas
ego
Gejala: peningkatan
faktor resiko,perubahan pola hidup.
Tanda:
ansietass,ketakutan,peka rangsang.
4. Makanan/cairan
Gejala:
mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia(emfisema), ketidak mampuan untuk makan karna distres pernapasan,
penurunan berat badan menetap(emfisema),
peningkatan berat badan menunjukan edema(bronkitis).
Tanda:
turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat, penurunan berat badan, penurunan massa otot/lemak
subkutan(emfisema), palpitasi abdominal dapat
menyatakan hepatomegali (bronkitis).
5. Higiene
Gejala:
penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Tanda:
kebersihan buruk, bau badan.
6. Pernapasan
Gejala:
napas pendek (timbul tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol pada
emfisema) khususnya pada kerja:cuaca atau episode berulangnya sulit nafas(asma);
rasa dada tertekan,ketidak mampuan untuk bernapas(asma).
“lapar udara” kronis, batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada sa’at
bangun) selama minimum 3 bulan berturut-turut
tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi aputum (hijau,putih,atau kuning)dapat banyak
sekali(bronkitis kronis). Episode batuk
hilang-timbul. Biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun dapat menjadi produktif(emfisema).
Riwayat pneumonia berulang,terpajan pada
polusi (mis,asbes,debu,batu bara,rami
katun,serbuk gergaji).
Tanda:
-pernapasan: biasanya cepat,dapat
lambat fase ekspirasi memanjang dengan mendengkur,napas bibir(empisema).
-dada: dapat terlihat hiperiflasi
dengan peninggian diameter AP (bentuk barel)gerakan diafragma minimal.
-bunyi nafas: mungkin redup dengan
ekspirasi mengi(empisema);menyebar,lembut,atau krekels
lembab kasar(bronkitis);rongki,mengi sepanjang area
paru pada ekspirasi dan kemungkinan selama inspirasi berlanjut sampai
penurunan atau tak adanya bunyi nafas (asma).
-perkusi: hiperesonan pada area
paru,bunyi pekak pada area paru. Kesulitan berbicara kalimat atau lebih dari 4
atau 5 kata sekaligus.
-warna: pucat dengan sianosis bibir
dan dasar kuku;abu-abu keseluruhan;warna merah.
7. Keamanan
Gejala:
riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan, adanya/berulangnya
infeksi, kemerahan/berkeringat(asma).
8. Seksualitas
Gejala:
penurunan libido.
9. Interaksi
sosial
Gejala:
hubunngan ketergantungan,kurang sistem pendukung, kegagalan dukungan
dari/terhadap pasangan /orang terdekat, penyakit lama atau ketidak mampuan
membaik.
Tanda:
ketidak mampuan untuk membuat/mempertahankan suara karena distres
pernapasan,keterbatasan mobilitas fisik,kelalaian hubungan dengan anggota
keluarga lain.
10. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala:
penggunaaan/penyalahgunaan obat pernapasan,kesulitan menghentikan rokok,penggunaan alkohol
secara teratur,kegagalan untuk membaik.
Pertimbangan
DRG menunjukan rerata lama dirawat ;5,9hari.
Rencana
pemulangan: bantuan dalam berbenlanja,transfortasi,kebutuhan perawatan diri,perawatan
rumah/mempertahankan tugas rumah, perubahan pengobatan/program terapeutik.
(buku ;FARMAKOLOGI DAN TERAPI EDISI 5(cetak ulang
dengan tambahan,2012),Sulistia Gan Gunawan,2007,Jakarta,departemen farmakologi
dan terapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia,halaman 82)
B.
Pemeriksaan Diagnostik
Sinar x dada :dapat menyatakan
hiperinflasi paru-paru; mendatarkan diagfragma; peningkatan area udara
retrosternal; penurunan tanda vascularisasi /bula (emfisema)peningkatan tanda
broncovasculer(bronkitis);hasil normal selama periode remisi(asma).
Tes fungsi paru: Dilakukan untuk
menentukan penyebab dispenea,untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah
obstruksi atau retriksi,untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk
mengevaluasi efek trapi,mis.bronkodilator.
TLC:peningkatan
pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma;penurunan emfisema.
Kapasitas
inspirasi :menurun pada emfisema.
Volume
residu :meningkat pada emfisema,bronkitis kronis,dan asma.
FEV/FVC:rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital
kuat menurun pada bronkitis dan asma.
GDA:memperkirakan
progresi proses penyakit kronis ,mis.paling sering PaO2 menurun, dan PaCo2
normal atau meningkat.(bronkitis kronisdan emfisema)tetapi sering meurun pada
asma;pH normal atau asidotik,alkalosis respiratorikringan sekunder terhadap
hiperventilasi (emfisema sedang atau asma).
Bronkogram:
dapat menunjukan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi;kolaps bronkial pada
ekspirasi kuat (emfisema);pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada
bronkitis.
JDL
dan diferensial:hemoglobin meningkat (emfisema luas),peningkatan eosinofil(asma).
Kimia
darah:alfa 1-antiripsin dilakukan untu meyaknkan difisiensi dan diagnosa
emfisema primer.
Sputum:
kultur untuk menentukan adanya infeksi,mengidentifikasi patogen;pemeriksaan
sitolik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.
EKG:devisiasi
aksis kanan,peninggian gelombang p(asma berat);distrimia atrial
(bronkitis),peninggian gelombang p pada lead
II,III,AVF(bronkitis,emfisema);aksis vertikal QRS(emfisema).
EKG
latian,tes stres :membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru,mengevaluasi
keefektifan terapi bronkodilator ,perencanaan/evaluasi program latihan.
C.
Perioritas Keperawatan
1. Mempertahankan
potensi jalan nafas
2. Membantu
tindakan untuk memudahkan pertukaran gas.
3. Meningkatkan
masukan nutrisi
4. Mencegah
konflikasi,memperlambat memburuknya kondisi.
5. Memberikan
informasi tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan.
D.
Tujuan Pemulangan
1. Ventilasi/oksigenasi
adekuat untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
2. Masukan
nutrisi memenuhi kebutuhan kalori.
3. Bebas
infeksi
4. Proses
penyakit/prognosis dan program terapi dipahami.
E.
Rencana Asuhan Keperawatan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
KRITERIA HASIL
|
INTERVENSI
|
RASIONALISASI
|
mersihan jalan napas
|
1.
Mempertahankan jalan nafas pasien dengan bunyi
nafas bersih/jelas.
2.
Menun jukan prilaku untuk memperbaiki bersihan
jalan nafas,mis.batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
|
1.
Aukultasi bunyi napas.catat adanya bunyi
napas,mis.mengi krekels,ronki.
2.
Kaji/pantau frekuensi pernapasan.catat rasio
inspirasi/ekspirasi.
3.
Catat adanya/derajat dispnea,mis.keluhan “lapar
udara”,gelisah ansietas distres pernapasan,penggunaan otot bantu.
4.
Kaji pasien untuk posisi yang
nyaman,mis.peninggian kepala tempat tidur,duduk pada sandaran tempat tidur.
Kolaborasi:
Kromolin(intal),flunisolida(aerobid).
|
1.
Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan
obstruksi jalan napas dan dapat/tak dimanifestasi adanya bunyi
adventisius,mis.penyebaran krekels basah (bronkitis);bunyi napas redup dengan
ekspirasi mengi(emfisema);atau tak adanya bunyi napas(asma berat).
2.
Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan
dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/adanya prose insfeksi
akut.pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding
inspirasi.
3.
Disfungsi pernapasan adalah variabel yang
tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan dirumah
sakit,mis.infeksi,reaksi alergi.
4.
Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi
pernapasan dengan menggunakan gravitasi.namun,pasien dengan distres berat
akan mencari posisi yang paling mudah untuk bernapas.sokongan tangan/kaki
dengan meja,bantal,dan lain-lain.membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat
sebagai alat ekspansi dada.
Menurunkan inflamasi jalan nafas lokal
dan edema dengan menghambat efek histamin dan mediator lain.
|
Nutrisi ,perubahan,kurang dari kebutuhan tubuh
|
1.
Menunjukan peningkatan berat badan menuju tujuan
yang tepat
2.
Menunjukan perilaku/perubahan pola hidup untuk
meningkatkan dan/atau mempertahankan berat yang tepat.
|
1.
Berikan perawatan oral sering,buang sekret
,berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tisu.
2.
Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan
sesudah makan. Berikan makan porsi kecil tapi sering.
3.
Hindari makanan penghasil gas dan minuman
karbonat.
4.
Hindari makanan yang sangat panas atau sangat
dingin.
Kolaborasi:berikan oksigen tambahan selama makan
sesuai indikasi.
|
1.
Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah
utama terhadap nafsu makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan
peningkatan kesulitan napas.
2.
Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan
dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.
3.
Dapat menghasilkan distensi abdomen yang
mengganggu napas abdomen dan gerakan diafragma dan dapat meningkatkan
dispnea.
4.
Suhu ekstrim dapat mencetuskan/meningkatkan spasme
batuk.
Menurunkan dispnea dan meningkatkan
energi untuk makan meningkatkan masukan.
|
Infeksi,resiko tinggi terhadap
|
1.
Menyatakan pemahaman penyebab/faktor resiko
individu.
2.
Mengidentifikasikan intervensi untuk
mencegah/menurunkan resiko infeksi.
|
1.
Awasi suhu
2.
Observasi warna,karakter,bau sputum.
3.
Awasi pengunjung ,berikan masker sesuai indikasi.
4.
Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
Kolaborasi:dapatkan spesimen sputum dengan batuk
atau penghisapan untuk pewarnaan kuman gram,kultur/sensitivitas.
|
1.
Demam dapat terjadi karna infeksi dan/atau
dehidrasi.
2.
Sekret berbau,kuning atau kehijauan menunjukan
adanya infeksi paru.
3.
Menurunkan potensial terpajan pada penyakit
insfeksius (mis,ISK)
4.
Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan
menurunkan tahanan terhadap infeksi.
Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme
penyebab dan ketahanan terhadap berbagai antimikrobial.
|
Pertukaran gas,kerusakan
|
1.
Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi
jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres
pernapasan.
2.
Berpartisipassi dalam program pengobatan dalam
tingkat kemampuan/situasi.
|
1.
Kaji frekuensi,kedalaman pernapasan.catat
penggunaan otot aksesoris,napas bibir,ketidakmampuan bicara/berbincang.
2.
Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membran
mukosa.
3.
Dorong mengeluarkan sputum,penghisapan bila
diindikasikan.
4.
Palpasi fremitus
Kolaborasi: Bantu intubasi,berikan/pertahankan
ventilasi mekanik,dan pindahkan ke UPI sesuai intruksi untuk pasien.
|
1.
Berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan
dan/atau kronisnya proses penyakit.
2.
Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku)atau
sentral(terlihat sekitar bibir/atau daun telinga).keabu-abuan dan diagnosis
sentral mengindikasikan beratnya hipoksimea.
3.
Kental,tebal,dan banyaknya sekresi adalah sumber
utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil.penghisapan dibutuhkan
bila batuk tidak efektif.
4.
Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan
cairan atau udara terjebak.
Terjadinya/kegagalan napas yang akan datang
memerlukan upaya tindakan penyelamatan hidup.
|
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asma
adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena adanya
respon yang berlebih terhadap rangsangan tertentu dan menyebabkan peradangan,
namun penyempitan ini bersifat sementara. Pada penderita asma, penyempitan
saluran pernafasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru
normal tidak akan mempengaruhi saluran pernafasan. Penyempitan ini dapat dipicu
oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara
dingin dan olahraga.
Pada
suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang
melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan
pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameter dari
saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan
penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.
Suatu
serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba ditandai dengan nafas yang
berbunyi (mengi, bengek), batuk dan sesak nafas. Bunyi mengi terutama terdengar
ketika penderita menghembuskan nafasnya. Di lain waktu, suatu serangan asma
terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap semakin memburuk.
Pada kedua keadaan tersebut, yang pertama kali dirasakan oleh seorang penderita
asma adalah sesak nafas, batuk atau rasa sesak di dada. Serangan bisa
berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam,
bahkan selama beberapa hari. Gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal
di dada atau di leher.
Selama
serangan asma, sesak nafas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa
cemas. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan
banyak keringat. Pada serangan yang sangat berat, penderita menjadi sulit untuk
berbicara karena sesaknya sangat hebat. Kebingungan, letargi (keadaan kesadaran
yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap, tetapi dapat dibangunkan sebentar
kemudian segera tertidur kembali) dan sianosis (kulit tampak kebiruan)
merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu
segera dilakukan pengobatan. Meskipun telah mengalami serangan yang berat,
biasanya penderita akan sembuh sempurna.Obat yang bias digunakan yaitu :
Bronkodilator
ini merangsang pelebaran saluran udara oleh reseptor beta-adrenergik.
Corticosteroid
menghalangi respon peradangan dan sangat efektif dalam mengurangi gejala asma.
Cromolin
dan nedocromil diduga menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast dan
menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara.
Obat
antikolinergik (contohnya atropin dan ipratropium bromida) bekerja dengan
menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di
dalam bronkus oleh asetilkolin.
Suatu
serangan asma harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk membuka
saluran pernafasan. Obat yang digunakan untuk mencegah juga digunakan untuk
mengobati asma, tetapi dalam dosis yang lebih tinggi atau dalam bentuk yang
berbeda.
DAFTAR
PUSTAKA
Brunner & Suddart (2002) “Buku
Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”, Jakarta : AGC.
Crockett, A. (1997) “Penanganan Asma
dalam Penyakit Primer”, Jakarta : Hipocrates.
Crompton, G. (1980) “Diagnosis and
Management of Respiratory Disease”, Blacwell
Scientific Publication.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F.
& Geissler, A. C. (2000) “Rencana Asuhan
Keperawatan”, Jakarta : EGC.
Hudak & Gallo (1997)
“Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”, Volume 1, Jakarta :
EGC.
Gunawan,Sulistia Gan 2007,FARMAKOLOGI DAN TERAPI EDISI
5(cetak ulang dengan tambahan,2012), Jakarta,departemen farmakologi dan
terapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia
Soeparman,1993,Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,
Jakarta,balai penerbit FKUI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar