Selasa, 08 Oktober 2013

asma bronchial


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bronchitis adalah salah satu penyakit pada paru-paru yang peradangannya menyerang bronchus dengan prevalensi kesakitan di Indonesia cukup besar jumlahnya. Hal ini disebabkan karena peningkatan pertumbuhan industri yang mengakibatkan terjadinya polusi udara, juga meningkatnya angka perokok terutama di usia remaja dan produktif. Biasanya penyakit bronchitis ini mengalami batuk-batuk kering, nafas agak sesak lama-kelamaan batuk disertai juga adanya peningkatan suhu tubuh.


Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan berperan membantu klien penyakit ini dengan memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif sehingga kebutuhan dasar klien yang terganggu dapat ditanggulangi.

B.     Tujuan
Memberikan gambaran asuhan  keperawatan pada pasien Bronchitis.

C.    Metode Penulisan
Penulisan makalah asuhan keperawatan ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan membaca buku-buku sumber yang berkaitan dengan penyajkit bronchitis.











BAB II
PEMBAHASAN
A.     PENGERTIAN
Definisi yang banyak dianut sa’at ini adalah yang dikemukakan oleh The American Thoracic Sosiety(1962):”Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan menifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah,baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan”.
Bila ditelaah lebih lanjut definisi tadi dapat di uraikan menjadi :
1.      Ada peningkatan respons trakea dan bronkus. Hal ini berarti bahwa jalan napas penderita asma mempunyai respons yang lebih hebat terhadap barbagai rangsangan dibandingkan dengan orang normal.
2.      Seraban asma jarang sekali hanya dicetuskan oleh satu macam rangsangan,tetapi oleh berbagai rangsangan.
3.      Kelainan tersebar luas pada kedua paru dan tidak hanya satu paru atau satu lobus paru.
4.      Dearajat serangan asma dapat berubah-ubah,misalnya obtruksi lebih berat pada malam hari dibandingkan dengan siang hari.
( buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :21)

B.     PATOFISIOLOGI
Untuk penanggulangan asma, diperlukan pemahaman mekaanisme dan fatofisiologi obtruksi saluran napas. Kesalahan dalam mendiagnosis dan menilai berat asma bukanlah hal yang jarang terjadi sehingga hasil pengobatannya tidak selalu memuaskan.
      Ada 2 golongan penyakit obstruksi saluran nafas,yaitu :
a.       Asma atau penyakit obstruksi saluran napas yang reversibel.
b.      Penyakit obstruksi saluran napas menahun yaitu bronkitis kronik dan emfisema.
pada berapa penderita,ketiga penyakit obstruksi saluran napas tersebut sukar dibedakan satu dari yang lain karna semuanya mempunyai patofisiologi yang sama. Dari ketiga penyakit tersebut ,asma bronkial mempunyai prognosis yang terbaik apabila ditangani dengan baik, tetapi bila tidak ,dapat menjadi penyakit obstruksi saluran  napas yang menahun.
Pengertian bronkitis menahun merupakan diagnosis klinis,emfisema merupakan diagnosis anatomis dan asma lebih bersifat fisiologis,kesukaran dalam menentukan diagnosis sering terjadi,oleh karna ada tumpang tindih antara ketiga penyakit tersebut baik klinis, empisema merupakan diagnosis anatomis dan asma lebih bersifat fisiologis,kesukaran dalam menentukan diagnosis sering terjadi oleh karna ada tumpang tindih antara ketiga penyakit tersebut baik klinis,radiologis maupun fisiologis.
Sifat-sifat obstruksi saluran napas.

Asma
Bronchitis kronik
emfisema
·        Reversibilitas
·        Alergi
·        hiperreaktivitas bronkus
·        respon terhadap bronkodilator
·        respon terhadap steroid
+
+
+

+

+

+
+
+

+

+
_
_
_

+

_

( buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :27)

C.     EPIDEMIOLOGI
Arti epidemiologi sebenarnya ialah that which is upon the people.tujuan penelitian epidemiologi adalah untuk mengetahui berat permasalahan penyakit dalam masyarakat,insidensi dan prevalensi penyakit,factor-faktor yang berperan dalam mortalitas serta fatogenesis penyakit.disamping itu hasil penelitian epidemiologi dapat pula menilai efficacy ,effectiveness dan efficiency suatu cara pengobatan dan pencegahan penyakit yang berguna dan dapat dimanfaatkan seluruh umat manusia yang hidup dalam lingkungan yang berbeda-beda.
            Oleh karna asma jarang menimbulkan kematian,angka mortalitas tidak banyak membantu menjelaskan patogenesis penyakit.studi insidensi juga hanya memberikan keterangan tentang frekuensi episode akut yang terjadi dalam kondisi tertentu saja ,sedangkan onset asma tidak selalu dapat dikenal dengan jelas.
Oleh karna itu penelitian epidemilogi asma lebih banyak diarahkan terhadap penentuan prevalensi.
Factor-faktor yang mempengaruhi prevalensi :
1.      Anak
2.      Dewasa
3.      Kelamin
4.      Atopi
5.      Factor bangsa
6.      Factor genetic dan pejamu
7.      Perjalanan penyakit dan factor-faktor yang berpengaruh
8.      Pengaruh lingkungan
9.      Factor psikologik
( buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :21)

D.     Manifestasi klinis
Pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukangejala klinis,sedangkan pada waktu serangan tampak penderita benafas cepat dan dalam,gelisah,duduk dengan tangan menyangga ke depan serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras.
Gejala asma yang klasik terdiri atas batuk,sesak dan wengi (wheezing) dan pada sebagian penderita disertai rasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu terdapat bersama-sama. Ada penderita yang hanya batuk tanpa rasa sesak,atau sesak dan wengi saja sehingga ada beberapa tingkat penderita asma sebagai berikut:
1.      Tingkat pertama,yaitu penderita asma yang secara klinis normal,tanpa kelainan pemeriksaan fisis maupun kelainan pemeriksaan fungsi parunya.pada penderita ini timbul gejala asma bila ada factor pencetus baik secara didapat,secara alamiah maupun dengan tes provokasi bronchial di laboratorium.
2.      Tingkat kedua adalah penderita asma tanpa keluhan dan tanpa kelainan pada pemeriksaan fisisnya,tetapi fungsi parunya menunjukan tanda-tanda obstruksi jalan napas.penderita golongan ini banyak dijumpai terutama setelah sembuh dari serangan asmanya.
3.      Tingkat ketiga adalah penderita asma tanpa keluhan tetapi pada pemeriksaan fisis maupun pemeriksaan fungsi paru menunjukan tanda obstruksi jalan napas.penderita ini sudah sembuh dari asmanya,tetapi bila tidak meneruskan pengobatannya akan mudah mendapat serangan asma kembali.
4.      Tingkat keempat adalah penderita asma yang paling sering dijumpai baik dalam praktik sehari-hari maupun di rumah sakit,penderita mengeluh sesak nafas,batuk dan napas berbunyi.pada pemeriksaan fisis maupun pemeriksaan spirometri akan ditemukan tanda-tanda obstruksi jalan napas. Penderita tingkat ini terbagi atas beberapa tingkat atau derajat.
Banyak klasifikasi untuk menentukan beratnya asma baik secara klinis,spirometrik,analisis gas darah maupun gabungan ketiganya.









Table 5.derajat berat sama berdasarkan aktivitas jasmani
Derajat
Keadaan klinis/kemampuan aktivitas jasmani
I



II



III
IV
A.     Dapat bekerja dengan agak susah.tidur kadang-kadang terganggu
B.     Dapat bekerja dengan susah payah. Tidur seri g kali terganggu
A.     Tiduran/duduk,bias bangun denan agak susah.tidur terganggu.
B.     Tiduran/duduk,bias bangun dengan susah payah.nadi >120/menit.
Tiduran/duduk,tidak bias bangun. Nadi >120/menit.
Pasien tidak dapat bergerak lagi dan kelelahan.
Keterangan: penderita derajat IIA sebaiknya dirawat di rumah sakit.
5.      Tingat kelima adalah status asmatikus,yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrakter sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.karna pada dasarnya asma merupakan penyakit obstruksi jalan napas yang reversible,maka segala daya harus dikerahkan untuk mengatasi keadaan ini.
Pentingnya meneliti klasifikasi berat asma selain untuk menilai kemajuan pengobatan juga untuk menentukan indikasi perawatan dan tindakan-tindakan lanjut bila diprlukan.karna pemeriksaan klinis kadang-kadang kurang tepat,maka diperlukan pemeriksaan tambahan seperti spirometri dan analisis gas darah.
( buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :31)

E.      Diagnosis
Umumnya diagnosis asma tidak sulit,terutama bila dijumpai gejalaklasik seperti sesak nafas,batuk dan mengi.serangan asma dapat timbul berulang-ulang,dengan masa remisi diantaranya. Serangan dapat cepat hilang dengan pengobatan,tetapi dapat juga hilang ssendiri secara sepontan.asma juga bisa menjadi kronik sehingga keluhan berlangsung terus menerus.
Adanya riwayat asma sebelumnya,riwayat penyakit alergik seperti rintis alergik,dan keluarga yang menderita penyakit alergik.dapat memperkuat dugaan penyakit asma.selain hal-hal diatas ,pada anamnesis perlu ditanyakan mengenai factor pencetus serangan.
Penemuan pada pemeriksaan fisis penderita asma tergantung dari derajat obstruksi jalan nafas.ekspirasi memanjang ,mengi,hiperinflasi dada,takikardia,pernafasan cepat sampai sianosis dapat dijumpai pada penderita asma dalam serangandalam peraktek tidak sering ditemukan kesulitan dalam menegakkan diagnosis asma ,tetapi banyak pula penderita yang bukan asma menimbulkan mengi sehinga diperlukan penunjang.pemeriksaan penunjang yang penting dalam asma adalah sebagai berikut:
1.      Spirometri untuk menunjukan adanya obstruksi jalan napas reversible.
Cara yang paling cepat dan sederhana untuk diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol(inhaler atau nebulizer) golongan adrenergic.
Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis ,tetapi juga penting menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Kegunaan spirometer dapat disamakan dengan tensimeter pada hipertensi atau glukometer pada diabetes mellitus. Banyak penderita asma tanpa keluhan,tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukan obstruksi. Hal ini akan mengakibatkan mudahnya serangan asma timbul kembali bahkan menjadi kronik, yang dapat berlanjut menjadi penyakit paru obstruksi menahun.
2.      Tes provokasi bronchial untuk menunjukan adanya hiperreaktivitas bronkus.
Jika pemeriksaan spirometri normal, untuk menunjukan adanya hiperreaktivitas bronkus harus dilakukan tes provokasi. Tes tersebut tidak dilakukan bila obstruksi jalan napas yang reversible dapat dilakukan dengan cara yang telah dikemukakan sebelumnya.
Ada berapa cara untuk melakukan tes provokasi bronchial seperti tes provokasi histamin, metakolin, allergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin bahkan inhalasi dengan aqua destilata.
3.      Pemeriksaan tes kulit.
Tujuan tes kulit yaitu untuk menunjukan adanya antibody IgE yang spesifik dalam tubuh.tes ini hanya menyokong anamnesis,karena allergen yang menunjukan tes kulit positif tidak selalu merupakan penyebab asma,sebaliknya tes kulit yang negatif tidak selalu berarti tidak ada factor kerentanan kulit. Hal yang akhir dapat disebabkan oleh pemberian antihistamin sebelum tes dan sebagainya.
4.      Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam serum.
Kegunaan pemeriksaan IgE total tidak banyak dan hanya untuk menyokong adanya penyakit atropi. Pemeriksaan IgE spesifik lebih berarti dan dilakukan terutama bila tes kulit tidak dapat dikerjakan atau jika hasilnya kurang dapat dipercaya.
5.      Pemeriksaan radiologi
Pada umumnya pemeriksaan foto dada penderita asma adalah normal. Pemeriksaan tersebut dilakukan bila ada kecurigaan terhadap proses patologik di paru atau komplikasi asma seperti pneumotoraks , pneumomediastinum, atelektasis dan lain-lain.
6.      Analisis gas darah.
Pemeriksaan analisis gas darah hanya dilakukan pada penderita dengan serangan asma berat. Pada keadaan tersebut dapat terjadi hipoksemia, hiperkapnia dan asidosis respiratorik.

7.      Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.
Pada penderita asma,jumlah eosinofil total dalam darah sering meningkat. Selain dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan cukup tidaknya dosis kortikosteroid yang di perlukan penderita asma,jumlah eosinofil total dalam darah dapat membantu untuk membedakan asma dari bronchitis kronik.
8.      Pemeriksaan sputum
Disamping untuk melihat adanya eosinofil,Kristal charcot leyned,spiral churschmann, pemeriksaan sputum penting untuk menilai adanya miselium aspergilus fumigates.
( buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :32-33)

F.      Komplikasi asma
1.      Pneumotoraks
2.      Pneumomediastinum dan emfisema subkutis
3.      Atelaktasis
4.      Aspergilosis bronkopulmoner alergik
5.      Gagal nafas
6.      Bronchitis
7.      Fraktur iga
G.     Pengobatan dan pencegahan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
1.      Menghilangkan obstruksi jalan napas dengan segera.
2.      Mengenal dan menghindari factor-faktor yang dapat mencetus serangan asma.
3.      Memberikan penerangan kepada penderita atau keluarganya mengenai penyakit asma,baik dalam cara pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya, sehingga penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerja sama dengan dokter yang merawatnya.
Ketiga prinsif diatas semuanya bertujuan agar fungsi paru penderita normal atau mendekati normal sehingga penderita dapat melakukan aktivitas sehari-harinya dengan baik.
Penderita yang datang dalam keadaan sesak, apa pun penyebabnya harus segera ditanggulangi. Jenis obat yang diberikan bergantung pada riwayat pengobatan sebelumnya serta derajat berat penyakit.
Secara kliniks asma dapat dibagi berikut :
1.      Asma akut intermiten
2.      Asma akut dan status asmatikus
3.      Asma kronik persisten.
( buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,soeparman,1993,Jakarta,balai penerbit FKUI. Halaman :34)

β 2-agonis merupakan salah satu obat utama dalam pengobatan asma bronchial. Bentuk aerosolnya adalah obat plihan utama untuk mengatasi serangan akut. Bentuk ini juga efektif untuk profilaksis serangan akibat hawa dingin atau olah raga,tetapi pasien perlu dilatih untuk menggunakan aerosol dengan teknik yang benar, karna hal ini sangat menentukan keberhasilan terapi. Sediaan oral menimbulkan lebih banyak efek samping kardiovaskuler dan sentral,karna itu tidak dianjurkan digunakan pada pengobatan asma kecuali untuk pasien yang tidak mau/mampu menggunakan aerosol.
Tetapi parentral dengan terbutalin, kadang-kadang dikombinasikan dengan bentuk aerosol , di gunakan untuk asma refrakter berat yang tidak responsif dengan pengobatan lain.
β.2 agonis seringkali diberikan pada pasien PPOM(penyakit paru obstruktif menahun) yang mempunyai komponen bronkokontriksi yang reversible, tetapi tidak smua pasien memberikan respons yang baik terhadap obat ini.karna itu,efektivitasnya harus dinilai sebelum digunakan untuk pengoobatan jangka panjang.
(buku ;FARMAKOLOGI DAN TERAPI EDISI 5(cetak ulang dengan tambahan,2012),Sulistia Gan Gunawan,2007,Jakarta,departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia,halaman 81)







BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ASMA
A.     Pengkajian
1.      Aktivitas/istirahat
Gejala: keletihan,kelelahan,malaise.
Ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karna sulit     bernafas.
Ketidak mampuan utuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi.
Dispnea pada sa’at istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.
Tanda: keletihan,gelisah,insomnia,kelemahan umum/kehilangan masa otot.
2.      Sirkulasi
Gejala: pembekakan pada ekstremitas bawah.
Tanda: peningkatan TD,peningkatan frekuensi jantung/takikardia                              berat,disritmia.Distensi vena leher(penyakit berat), edema dependen, tidak              berhubungan dengan penyakit jantung, bunyi jantung redup(yang                          berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada), warna                                              kulit/membran mukosa:normal/abu-abu/sianosis:kuku tabuh dan sianosis    perifer, pucat pada menunjukan anemia.
3.      Integritas ego
Gejala: peningkatan faktor resiko,perubahan pola hidup.
Tanda: ansietass,ketakutan,peka rangsang.
4.      Makanan/cairan
Gejala: mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia(emfisema), ketidak mampuan     untuk makan karna distres pernapasan, penurunan berat badan                                    menetap(emfisema), peningkatan berat badan menunjukan                                    edema(bronkitis).
Tanda: turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat, penurunan berat badan,     penurunan massa otot/lemak subkutan(emfisema), palpitasi abdominal                 dapat menyatakan hepatomegali (bronkitis).



5.      Higiene
Gejala: penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan                          aktivitas sehari-hari.
Tanda: kebersihan buruk, bau badan.
6.      Pernapasan
Gejala: napas pendek (timbul tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala                             menonjol pada emfisema) khususnya pada kerja:cuaca atau episode                                    berulangnya sulit nafas(asma); rasa dada tertekan,ketidak mampuan untuk                    bernapas(asma). “lapar udara” kronis, batuk menetap dengan produksi                             sputum setiap hari (terutama pada sa’at bangun) selama minimum 3 bulan             berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi aputum                                  (hijau,putih,atau kuning)dapat banyak sekali(bronkitis kronis). Episode                   batuk hilang-timbul. Biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun              dapat menjadi produktif(emfisema). Riwayat pneumonia berulang,terpajan                       pada polusi  (mis,asbes,debu,batu bara,rami katun,serbuk gergaji).
Tanda:
             -pernapasan: biasanya cepat,dapat lambat fase ekspirasi memanjang                                     dengan mendengkur,napas bibir(empisema).
             -dada: dapat terlihat hiperiflasi dengan peninggian diameter AP (bentuk                     barel)gerakan diafragma minimal.
             -bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi                                                                       mengi(empisema);menyebar,lembut,atau krekels lembab                                            kasar(bronkitis);rongki,mengi sepanjang area paru pada ekspirasi dan                                    kemungkinan selama inspirasi berlanjut sampai penurunan atau tak                                      adanya bunyi nafas (asma).
             -perkusi: hiperesonan pada area paru,bunyi pekak pada area paru.                           Kesulitan berbicara kalimat atau lebih dari 4 atau 5 kata sekaligus.
             -warna: pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku;abu-abu                                                 keseluruhan;warna merah.
7.      Keamanan
Gejala: riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan,                               adanya/berulangnya infeksi, kemerahan/berkeringat(asma).
8.      Seksualitas
Gejala: penurunan libido.
9.      Interaksi sosial
Gejala: hubunngan ketergantungan,kurang sistem pendukung, kegagalan                               dukungan dari/terhadap pasangan /orang terdekat, penyakit lama atau                         ketidak mampuan membaik.
Tanda: ketidak mampuan untuk membuat/mempertahankan suara karena distres pernapasan,keterbatasan mobilitas fisik,kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.
10.  Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: penggunaaan/penyalahgunaan obat pernapasan,kesulitan menghentikan                     rokok,penggunaan alkohol secara teratur,kegagalan untuk membaik.
Pertimbangan DRG menunjukan rerata lama dirawat ;5,9hari.
Rencana pemulangan: bantuan dalam berbenlanja,transfortasi,kebutuhan      perawatan diri,perawatan rumah/mempertahankan tugas rumah, perubahan pengobatan/program terapeutik.
(buku ;FARMAKOLOGI DAN TERAPI EDISI 5(cetak ulang dengan tambahan,2012),Sulistia Gan Gunawan,2007,Jakarta,departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia,halaman 82)

B.     Pemeriksaan Diagnostik
       Sinar x dada :dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarkan diagfragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vascularisasi /bula (emfisema)peningkatan tanda broncovasculer(bronkitis);hasil normal selama periode remisi(asma).
       Tes fungsi paru: Dilakukan untuk menentukan penyebab dispenea,untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau retriksi,untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek trapi,mis.bronkodilator.
TLC:peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma;penurunan emfisema.
Kapasitas inspirasi :menurun pada emfisema.
Volume residu :meningkat pada emfisema,bronkitis kronis,dan asma.
FEV/FVC:rasio  volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronkitis dan asma.
GDA:memperkirakan progresi proses penyakit kronis ,mis.paling sering PaO2 menurun, dan PaCo2 normal atau meningkat.(bronkitis kronisdan emfisema)tetapi sering meurun pada asma;pH normal atau asidotik,alkalosis respiratorikringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asma).
Bronkogram: dapat menunjukan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi;kolaps bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema);pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronkitis.
JDL dan diferensial:hemoglobin meningkat (emfisema luas),peningkatan eosinofil(asma).
Kimia darah:alfa 1-antiripsin dilakukan untu meyaknkan difisiensi dan diagnosa emfisema primer.
Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi,mengidentifikasi patogen;pemeriksaan sitolik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.
EKG:devisiasi aksis kanan,peninggian gelombang p(asma berat);distrimia atrial (bronkitis),peninggian gelombang p pada lead II,III,AVF(bronkitis,emfisema);aksis vertikal QRS(emfisema).
EKG latian,tes stres :membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru,mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator ,perencanaan/evaluasi program latihan.

C.     Perioritas Keperawatan
1.      Mempertahankan potensi jalan nafas
2.      Membantu tindakan untuk memudahkan pertukaran gas.
3.      Meningkatkan masukan nutrisi
4.      Mencegah konflikasi,memperlambat memburuknya kondisi.
5.      Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan.

D.     Tujuan Pemulangan
1.      Ventilasi/oksigenasi adekuat untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
2.      Masukan nutrisi memenuhi kebutuhan kalori.
3.      Bebas infeksi
4.      Proses penyakit/prognosis dan program terapi dipahami.



E.      Rencana Asuhan Keperawatan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
KRITERIA HASIL
INTERVENSI
RASIONALISASI
mersihan jalan napas
1.      Mempertahankan jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih/jelas.
2.      Menun jukan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas,mis.batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
1.      Aukultasi bunyi napas.catat adanya bunyi napas,mis.mengi krekels,ronki.











2.      Kaji/pantau frekuensi pernapasan.catat rasio inspirasi/ekspirasi.








3.      Catat adanya/derajat dispnea,mis.keluhan “lapar udara”,gelisah ansietas distres pernapasan,penggunaan otot bantu.

4.      Kaji pasien untuk posisi yang nyaman,mis.peninggian kepala tempat tidur,duduk pada sandaran tempat tidur.






























Kolaborasi:
Kromolin(intal),flunisolida(aerobid).
1.      Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tak dimanifestasi adanya bunyi adventisius,mis.penyebaran krekels basah (bronkitis);bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi(emfisema);atau tak adanya bunyi napas(asma berat).

2.      Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/adanya prose insfeksi akut.pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.

3.      Disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan dirumah sakit,mis.infeksi,reaksi alergi.

4.      Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan dengan menggunakan gravitasi.namun,pasien dengan distres berat akan mencari posisi yang paling mudah untuk bernapas.sokongan tangan/kaki dengan meja,bantal,dan lain-lain.membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.

Menurunkan inflamasi jalan nafas lokal dan edema dengan menghambat efek histamin dan mediator lain.
Nutrisi ,perubahan,kurang dari kebutuhan tubuh  

1.      Menunjukan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat
2.      Menunjukan perilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan berat yang tepat.
1.      Berikan perawatan oral sering,buang sekret ,berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tisu.






2.      Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan. Berikan makan porsi kecil tapi sering.




3.      Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.







4.      Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin.



Kolaborasi:berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi.
1.      Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap nafsu makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan napas.
2.      Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.
3.      Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu napas abdomen dan gerakan diafragma dan dapat meningkatkan dispnea.
4.      Suhu ekstrim dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.

Menurunkan dispnea dan meningkatkan energi untuk makan meningkatkan masukan.
Infeksi,resiko tinggi terhadap
1.      Menyatakan pemahaman penyebab/faktor resiko individu.
2.      Mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.
1.      Awasi suhu



2.      Observasi warna,karakter,bau sputum.



3.      Awasi pengunjung ,berikan masker sesuai indikasi.


4.      Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.




Kolaborasi:dapatkan spesimen sputum dengan batuk atau penghisapan untuk pewarnaan kuman gram,kultur/sensitivitas.
1.      Demam dapat terjadi karna infeksi dan/atau dehidrasi.
2.      Sekret berbau,kuning atau kehijauan menunjukan adanya infeksi paru.
3.      Menurunkan potensial terpajan pada penyakit insfeksius (mis,ISK)
4.      Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.
Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan ketahanan terhadap berbagai antimikrobial.
Pertukaran gas,kerusakan
1.      Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernapasan.
2.      Berpartisipassi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan/situasi.
1.      Kaji frekuensi,kedalaman pernapasan.catat penggunaan otot aksesoris,napas bibir,ketidakmampuan bicara/berbincang.
2.      Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.










3.      Dorong mengeluarkan sputum,penghisapan bila diindikasikan.








4.      Palpasi fremitus




Kolaborasi: Bantu intubasi,berikan/pertahankan ventilasi mekanik,dan pindahkan ke UPI sesuai intruksi untuk pasien.

1.      Berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan dan/atau kronisnya proses penyakit.

2.      Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku)atau sentral(terlihat sekitar bibir/atau daun telinga).keabu-abuan dan diagnosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksimea.

3.      Kental,tebal,dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil.penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif.

4.      Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara terjebak.

Terjadinya/kegagalan napas yang akan datang memerlukan upaya tindakan penyelamatan hidup.



BAB IV
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena adanya respon yang berlebih terhadap rangsangan tertentu dan menyebabkan peradangan, namun penyempitan ini bersifat sementara. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru normal tidak akan mempengaruhi saluran pernafasan. Penyempitan ini dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.
Pada suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.
Suatu serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba ditandai dengan nafas yang berbunyi (mengi, bengek), batuk dan sesak nafas. Bunyi mengi terutama terdengar ketika penderita menghembuskan nafasnya. Di lain waktu, suatu serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap semakin memburuk. Pada kedua keadaan tersebut, yang pertama kali dirasakan oleh seorang penderita asma adalah sesak nafas, batuk atau rasa sesak di dada. Serangan bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam, bahkan selama beberapa hari. Gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal di dada atau di leher.
Selama serangan asma, sesak nafas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa cemas. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat. Pada serangan yang sangat berat, penderita menjadi sulit untuk berbicara karena sesaknya sangat hebat. Kebingungan, letargi (keadaan kesadaran yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap, tetapi dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali) dan sianosis (kulit tampak kebiruan) merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu segera dilakukan pengobatan. Meskipun telah mengalami serangan yang berat, biasanya penderita akan sembuh sempurna.Obat yang bias digunakan yaitu :
Bronkodilator ini merangsang pelebaran saluran udara oleh reseptor beta-adrenergik.
Corticosteroid menghalangi respon peradangan dan sangat efektif dalam mengurangi gejala asma.

Cromolin dan nedocromil diduga menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast dan menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara.

Obat antikolinergik (contohnya atropin dan ipratropium bromida) bekerja dengan menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di dalam bronkus oleh asetilkolin.
Suatu serangan asma harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk membuka saluran pernafasan. Obat yang digunakan untuk mencegah juga digunakan untuk mengobati asma, tetapi dalam dosis yang lebih tinggi atau dalam bentuk yang berbeda.





DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”, Jakarta : AGC.
Crockett, A. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”, Jakarta : Hipocrates.
Crompton, G. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”, Blacwell
Scientific Publication.

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. (2000) “Rencana Asuhan
Keperawatan”, Jakarta : EGC.

Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”, Volume 1, Jakarta :
EGC.

Gunawan,Sulistia Gan 2007,FARMAKOLOGI DAN TERAPI EDISI 5(cetak ulang dengan tambahan,2012), Jakarta,departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia

Soeparman,1993,Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta,balai penerbit FKUI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar