Perubahan Fungsi Usus (Hernia, Megakolon
Kongenital, Hemoroid, Ca Colon / Kanker Kolon, Typus Abdominalis, Ulkus
Peptikum) & Perubahan Fungsi Hati dan Kandung Empedu
A. Perubahan Fungsi Usus Terdiri Dari :
1. Hernia
Hernia atau yang sering disebut dengan Tedun adalah penonjolan isi
rongga perut akibat melemahnya otot dinding rongga perut. Secara medis,
hernia terjadi karena dinding perut tidak kuat menahan beban isi perut
(usus) sehingga usus tersebut melorot turun dan mendesak kebawah.
Hernia atau turun berok selama ini lebih dikenal sebagai penyakit pria,
karena hanya kaum pria yang mempunyai bagian khusus dalam rongga perut
untuk mendukung fungsi alat kelaminnya. Berdasarkan penyebab terjadinya,
hernia dapat dibedakan menjadi hernia bawaan (congenital) dan hernia
dapatan (akuisita). Sedangkan menurut letaknya, hernia dibedakan menjadi
hernia inguinal, umbilical, femoral, diafragma dan masih banyak lagi
nama lainnya.
Isi dari hernia adalah usus, ovarium ataupun jaringan penyangga usus
(omentum). Bila ada bagian yang lemah dari lapisan otot dinding perut,
maka usus dapat keluar ke tempat yang tidak semestinya, yakni bisa ke
diafragma (batas antara perut dan dada), bisa ke lipatan paha dan juga
ke bawah pusar.
Bagian hernia terdiri dari cincin, kantong, dan isi hernia itu sendiri.
Isi hernia yaitu usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).
Bila ada bagian yang lemah dari lapisan otot dinding perut, maka usus
dapat keluar ke tempat yang tidak seharusnya, yakni bisa ke diafragma
(batas antara perut dan dada), bisa di lipatan paha, atau di pusar.
Umumnya hernia tidak menyebabkan nyeri. Namun, akan terasa nyeri bila
isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Infeksi akibat hernia
menyebabkan penderita merasakan nyeri yang hebat, dan infeksi tersebut
akhirnya menjalar dan meracuni seluruh tubuh. Jika sudah terjadi keadaan
seperti itu, maka harus segera ditangani oleh dokter karena dapat
mengancam nyawa penderita.
Hernia dapat terjadi pada semua umur, baik tua maupun muda. Pada
anak-anak atau bayi, lebih sering disebabkan oleh kurang sempurnanya
procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau
buah zakar. Biasanya yang sering terkena hernia adalah bayi atau anak
laki-laki. Pada orang dewasa, hernia terjadi karena adanya tekanan yang
tinggi dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding perut karena faktor
usia. Tekanan dalam perut yang meningkat dapat disebabkan oleh batuk
yang kronik, susah buang air besar, adanya pembesaran prostat pada pria,
serta orang yang sering mengangkut barang-barang berat.
Penyakit hernia akan meningkat sesuai dengan penambahan umur. Hal
tersebut dapat disebabkan oleh melemahnya jaringan penyangga usus atau
karena adanya penyakit yang menyebabkan tekanan di dalam perut
meningkat.
Sebenarnya sudah banyak masyarakat yang tahu tentang gejala awal
penyakit hernia, namun seringkali tidak menyadarinya. Pada awalnya,
gejala yang dirasakan oleh penderita adalah berupa keluhan benjolan di
lipatan paha. Biasanya akan timbul bila berdiri, batuk, bersin, mengejan
atau mengangkat barang-barang berat. Benjolan dan keluhan nyeri itu
akan hilang bila penderita berbaring.
Hernia dapat berbahaya bila sudah terjadi jepitan isi hernia oleh cincin
hernia. Pembuluh darah di daerah tersebut lama-kelamaan akan mati dan
akan terjadi penimbunan racun. Jika dibiarkan terus, maka racun tersebut
akan menyebar ke seluruh daerah perut sehingga dapat menyebabkan
terjadinya infeksi di dalam tubuh.
Sebenarnya tidak semua hernia harus dioperasi. Bila jaringan hernia
masih dapat dimasukkan kembali, maka tindakannya adalah hanya
menggunakan penyangga atau korset untuk mempertahankan isi hernia yang
telah direposisi. Pada anak-anak atau bayi, reposisi spontan dapat
terjadi karena cincin hernia pada anak lebih elastis. Bila sudah tidak
dapat direposisi, maka satu-satunya tindakan yang harus dilakukan adalah
melalui operasi.
Untuk kasus yang umum, hernia ini ditandai dengan membesarnya “kantong
buah zakar” ataupun benjolan dibawah pusar kira-kira 5 cm baik disebelah
kanan maupun di sebelah kiri.
Hernia atau tedun ini selain banyak diderita oleh orang dewasa juga
banyak dijumpai diderita oleh anak-anak. Jadi, hernia dapat terjadi pada
semua umur. Namun yang sering dijumpai, kasus hernia ini banyak diidap
oleh laki-laki.
Pada orang dewasa, hernia terjadi karena adanya peningkatan tekanan di
dalam rongga perut dan akibat melemahnya otot dinding perut karena
faktor usia. Tekanan yang meningkat akibat batuk yang kronis ataupun
juga karena mengangkat beban yang berat bisa menyebabkan timbulnya
hernia. Efek dari hernia ini adalah timbulnya rasa nyeri dibagian bawah
perut dan jika kondisi ini sudah parah, maka tidak ada cara lain selain
operasi. Operasi dilakukan untuk mengembalikan bagian yang melorot ini
ke tempat semula dan kemudian mengikat sekat rongga perut yang berbentuk
seperti cincin agar “usus” tersebut tidak melorot kembali. Ini yang
disebut dengan hernia irreponible.
Untuk kasus yang ringan, hernia ini bisa sembuh hanya dengan mendorong
kembali bagian yang melorot tersebut ke atas, atau istilah jawa nya
adalah di “sandet” atau mengenakan celana dalam yang ketat setiap hari.
Tipe ini disebut dengan hernia reponible.
Ditinjau dari segi “psikoterapi”, hernia ini timbul sebagai akibat dari
perilaku yang tidak sabaran atau grusa-grusu. Jika punya suatu
keingingan, maka keinginan itu harus segera terwujud. Jika perilaku ini
tidak dirubah maka peluang sakit hernia ini terbuka lebar.
Ada satu terapi yang sepele bahkan menggelikan, tetapi ini untuk hernia
yang ringan yaitu, carilah “capung” yang besar yang berwarna hijau atau
hitam, orang jawa menyebutnya “kinjeng bethok”. Kemudian gigitkan pada
bagian yang sakit itu, misal kantong buah zakar, karena timbul rasa
sakit, secara otomatis ada hentakan yang mendadak sehingga bisa membantu
naiknya usus yang melorot tersebut.
2. Megakolon Kongenital
Definisi penyakit Hirschsprung (Megakolon Kongenital) adalah suatu
penyumbatan pada usus besar yang terjadi akibat pergerakan usus yang
tidak adekuat karena sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang
mengendalikan kontraksi ototnya.
Penyebab dari penyakit Hirschsprung (Megakolon Kongenital) adalah dalam
keadaan normal, bahan makanan yang dicerna bisa berjalan di sepanjang
usus karena adanya kontraksi ritmis dari otot-otot yang melapisi usus
(kontraksi ritmis ini disebut gerakan peristaltik).
Kontraksi otot-otot tersebut dirangsang oleh sekumpulan saraf yang
disebut ganglion, yang terletak dibawah lapisan otot.
Pada penyakit Hirschsprung, ganglion ini tidak ada, biasanya hanya
sepanjang beberapa sentimeter. Segmen usus yang tidak memiliki gerakan
peristaltik tidak dapat mendorong bahan-bahan yang dicerna dan terjadi
penyumbatan. Penyakit Hirschsprung 5 kali lebih sering ditemukan pada
bayi laki-laki. Penyakit ini kadang disertai dengan kelainan bawaan
lainnya, misalnya sindroma Down.
Gejala-gejala yang mungkin terjadi:
- segera setelah lahir, bayi tidak dapat mengeluarkan mekonium (tinja
pertama pada bayi baru lahir)
- tidak dapat buang air besar dalam waktu 24-48 jam setelah lahir
- perut menggembung
- muntah
- diare encer (pada bayi baru lahir)
- berat badan tidak bertambah
- malabsorbsi.
Kasus yang lebih ringan mungkin baru akan terdiagnosis di kemudian hari.
Pada anak yang lebih besar, gejalanya adalah sembelit menahun, perut
menggembung dan gangguan pertumbuhan.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan colok dubur (memasukkan jari tangan ke dalam anus)
menunjukkan adanya pengenduran pada otot rektum. Pemeriksaan yang biasa
dilakukan adalah :
o Rontgen perut (menunjukkan pelebaran usus besar yang terisi oleh gas
dan tinja)
o Barium enema
o Manometri anus (pengukuran tekanan sfingter anus dengan cara
mengembangkan balon di dalam rektum)
o Biopsi rektum (menunjukkan tidak adanya ganglion sel-sel saraf).
Pengobatan atau untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyumbatan
usus, segera dilakukan kolostomi sementara. Kolostomi adalah pembuatan
lubang pada dinding perut yang disambungkan dengan ujung usus besar.
Pengangkatan bagian usus yang terkena dan penyambungan kembali usus
besar biasanya dilakukan pada saat anak berusia 6 bulan atau lebih. Jika
terjadi perforasi (perlubangan usus) atau enterokolitis, diberikan
antibiotik.
3. Hemoroid
Hemoroid dapat diartikan sebagai suatu benjolan yang ada disekitar anus
yang didalamnya terdapat pembuluh darah balik (vena), otot dan jaringan
ikat elastis. Anus sendiri merupakan suatu muara usus besar tempat
keluarnya kotoran hasil dari pencernaan makanan. Setiap orang pasti
memiliki hemoroid, cuma karena ukurannya kecil hemoroid ini sering
diabaikan. Hemoroid akan menimbulkan masalah bila ia membesar dan
berdarah.
Meskipun hemoroid dapat dijumpai pada setiap orang, namun yang membesar
dan menimbulkan masalah hanya 4% dari total populasi. Kejadian hemoroid
tidak memandang jenis kelamin dan umumnya meningkat pada usia 45 sampai
65 tahun.
Penyebab pasti dari pembesaran hemoroid masih belum diketahui. Meskipun
demikian, ada beberapa teori yang dapat digunakan menjelaskan apa yang
menyebabkan timbulnya hemoroid, diantaranya : kurangnya konsumsi serat
pada makanan, susah buang air besar dalam jangka waktu yang lama dan
adanya konstipasi. Kehamilan juga diduga berperanan dalam timbulnya
hemoroid, namun alasan untuk itu masih belum jelas.
Gejala utama dari hemoroid adalah timbulnya rasa nyeri saat buang air
besar akibat rangsangan pada saraf yang ada disekitar anus. Bila
hemoroid terus membesar maka akan dapat diraba tonjolan pada anus yang
terkadang bisa mengecil dengan sendirinya. Tonjolan ini akan membesar
saat mengedan, sebaliknya akan mengecil saat rebahan. Bila terjadi
gesekan hemoroid dengan kotoran yang keras, maka hal tersebut akan
menyebabkan hemoroid teriritasi dan luka sehingga terjadi perdarahan.
Jenis hemoroid dapat dibagi 2 yaitu hemoroid interna dan eksterna.
Hemoroid eksterna tentu sangat mudah diketahui karena hemoroid jenis ini
akan menonjol keluar. Lalu bagaimana dengan hemoroid interna? Para ahli
membagi hemoroid interna menjadi 4 derajat untuk menilai tingkat
keparahannya.
• Grade 1, terjadi perdarahan tetapi tidak ada tonjolan rektum.
• Grade 2, terjadi tonjolan rektum tetapi bisa masuk kembali dengan
sendirinya.
• Grade 3, terjadi tonjolan rektum tetapi bisa masuk kembali dengan
bantuan tangan.
• Grade 4, terjadi tonjolan rektum disertai dengan bekuan darah dan
tonjolan ini menutupi muara anus.
Sedangkan untuk hemoroid eksternal, gejalanya tidak separah hemoroid
internal terutama masalah nyeri dan perdarahan. Mungkin karena letaknya
yang dibawah klep anus sehingga gejala yang timbul tidak mempengaruhi
fungsi dari anus.
Langkah pertama dalam mengobati hemoroid adalah dengan meminimalisasi
kemungkinan penyebab dari hemoroid tersebut. Bila disebabkan oleh faktor
makanan maka dianjurkan untuk mulai mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung serat seperti buah buahan, sayur sayuran, padi padian dan
sereal. Konsumsi obat pelunak kotoran dan minum yang banyak juga
direkomendasikan.
Bila dengan pengaturan diet gagal, maka dilanjutkan dengan menggunakan
obat obatan antihemoroid. Ada beberapa sediaan obat diantaranya, salep,
krim dan tablet anus. Untuk mendapatkan obat ini lebih baik anda
berkonsultasi dengan dokter kesayangan anda sebab ada beberapa obat yang
harus didapatkan dengan resep dokter.
Pilihan terakhir pengobatan hemoroid adalah dengan operasi. Operasi
biasanya dilakukan pada hemoroid yang parah dan sulit diatasi dengan
obat obatan. Namun biasanya, walau telah dilakukan operasi, pasien tetap
dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat.
4. Ca Colon / Kanker Kolon
Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar
adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan
appendix (usus buntu). Di negara maju, kanker ini menduduki peringkat ke
tiga yang paling sering terjadi, dan menjadi penyebab kematian yang
utama di dunia barat. Untuk menemukannya diperlukan suatu tindakan yang
disebut sebagai kolonoskopi, sedangkan untuk terapinya adalah melalui
pembedahan diikuti kemoterapi.
Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai
gejala umum keganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah
berlangsung beberapa waktu barulah muncul gejala-gejala lain yang
berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di usus
besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin
banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala
tersebut terbagi tiga, yaitu gejala lokal, gejala umum, dan gejala
penyebaran (metastasis).
Gejala lokalnya adalah :
• Perubahan kebiasaan buang air
o Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah
(diare)
o Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin tapi sudah
tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses).
Keduanya adalah ciri khas dari kanker kolorektal
o Perubahan wujud fisik kotoran/feses
Feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat
buang air besar
Feses bercampur lendir
Feses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya
perdarahan di saluran pencernaan bagian atas
• Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar,
terjadi akibat sumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor
• Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita
• Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker
dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti
kandung kemih (timbul darah pada air seni, timbul gelembung udara,
dll), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dll).
Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor
dan semakin luas penyebarannya
Gejala umumnya adalah :
• Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang
paling umum di semua jenis keganasan)
• Hilangnya nafsu makan
• Anemia, pasien tampak pucat
• Sering merasa lelah
• Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang
Gejala penyebarannya adalah :
• Penyebaran ke Hati, menimbulkan gejala :
o Penderita tampak kuning
o Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas, di sekitar
lokasi hati
o Pembesaran hati, biasa tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter
• Timbul suatu gejala lain yang disebut paraneoplastik, berhubungan
dengan peningkatan kekentalan darah akibat penyebaran kanker.
Tingkatan / Staging / Stadium Kanker Kolon
Terdapat beberapa macam klasifikasi staging pada kanker kolon, ada
klasifikasi TNM, klasifikasi Dukes, namun yang akan saya jabarkan
klasifikasinya adalah sebagai berikut (mirip dengan klasifikasi Dukes) :
• Stadium 1 : Kanker terjadi di dalam dinding kolon
• Stadium 2 : Kanker telah menyebar hingga ke lapisan otot kolon
• Stadium 3 : Kanker telah menyebar ke kelenjar-kelenjar limfa
• Stadium 4 : Kanker telah menyebar ke organ-organ lain
Faktor Resiko
Siapa saja yang bisa terkena kanker kolon ini ? Berikut adalah
faktor-faktor yang meningkatkan resiko seseorang terkena kanker kolon :
1. Usia. Resiko meningkat dengan bertambahnya usia. Kebanyakan kasus
terjadi pada usia 60 –70 an, dan jarang di bawah usia 50 kecuali dalam
sejarah keluarga ada yang terkena kanker kolon ini.
2. Adanya polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa. Dengan
dihilangkannya polip pada saat ditemukan turut mengurangi resiko
terjadinya kanker kolon di kemudian hari.
3. Riwayat kanker. Seseorang yang pernah terdiagnosis mengidap atau
pernah dirawat untuk kanker kolon beresiko untuk mengidap kanker kolon
di kemudian hari. Wanita yang pernah mengidap kanker ovarium (indung
telur), kanker uterus, dan kanker payudara memiliki resiko yang lebih
besar untuk terkena kanker kolorektal.
4. Faktor keturunan :
o Sejarah adanya kanker kolon khususnya pada keluarga dekat.
o Penyakit FAP (Familial Adenomatous Polyposis) – Polip adenomatosa
familial (terjadi dalam keluarga); memiliki resiko 100% untuk terjadi
kanker kolorektal sebelum usia 40 tahun, bila tidak diobati.
o Penyakit lain dalam keluarga, seperti HNPCC (Hereditary Non Polyposis
Colorectal Cancer) – penyakit kanker kolorektal non polip yang menurun
dalam keluarga, atau sindroma Lynch
5. Penyakit kolitis (radang kolon) ulseratif yang tidak diobati.
6. Kebiasaan merokok. Perokok memiliki resiko jauh lebih besar untuk
terkena kanker kolorektal dibandingkan bukan perokok.
7. Kebiasaan makan. Pernah di teliti bahwa kebiasaan makan banyak daging
dan sedikit buah, sayuran, serta ikan turut meningkatkan resiko
terjadinya kanker kolorektal.
8. Sedikit beraktivitas. Orang yang beraktivitas fisik lebih banyak
memiliki resiko lebih rendah untuk terbentuk kanker kolorektal.
9. Inveksi Virus. Virus tertentu seperti HPV (Human Papilloma Virus)
turut andil dalam terjadinya kanker kolorektal.
Bagaimana Mendeteksinya ?
Kanker kolorektal dapat memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang,
sehingga deteksi dini sangat berpengaruh terhadap kemungkinan sembuhnya.
Bila Anda termasuk seseorang yang beresiko untuk terkena, ada baiknya
Anda melakukan pemeriksaan screening. Pemeriksaan itu adalah :
• Pemeriksaan rektal dengan jari (Digital Rectal Exam), di mana dokter
memeriksa keadaan dinding rektum sejauh mungkin dengan jari; pemeriksaan
ini tidak selalu menemukan adanya kelainan, khususnya kanker yang
terjadi di kolon saja dan belum menyebar hingga rektum.
• Pemeriksaan darah dalam tinja.
• Endoskopi. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat karena selain melihat
keadaan dalam kolon juga bisa bertindak, misalnya ketika menemukan polip
endoskopi ini dapat sekaligus mengambilnya untuk kemudian dilakukan
biopsi.
• Pemeriksaan barium enema dengan double contrast.
• Virtual Colonoscopy.
• CAT Scan.
• Pemeriksaan kadar CEA (Carcino Embryonic Antigent) darah.
• Whole-body PET Scan Imaging. Sementara ini adalah pemeriksaan
diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker kolorektal rekuren
(yang timbul kembali).
• Pemeriksaan DNA Tinja.
Bagaimana Perawatannya ?
Perawatan penderita tergantung pada tingkat staging kanker itu sendiri.
Terapi akan jauh lebih mudah bila kanker ditemukan pada stadium dini.
Tingkat kesembuhan kanker stadium 1 dan 2 masih sangat baik. Namun bila
kanker ditemukan pada stadium yang lanjut, atau ditemukan pada stadium
dini dan tidak diobati, maka kemungkinan sembuhnya pun akan jauh lebih
sulit.
Di antara pilihan terapi untuk penderitanya, opsi Operasi masih
menduduki peringkat pertama, dengan ditunjang oleh kemoterapi dan/atau
radioterapi (mungkin diperlukan).
Pembedahan
Tindakan ini dibagi menjadi Curative, Palliative, Bypass, Fecal
diversion, dan Open-and-close. Bedah Curative dikerjakan apabila tumor
ditemukan pada daerah yang terlokalisir. Intinya adalah membuang bagian
yang terkena tumor dan sekelilingnya. Pada keadaan ini mungkin
diperlukan suatu tindakan yang disebut TME (Total Mesorectal Excision),
yaitu suatu tindakan yang membuang usus dalam jumlah yang signifikan.
Akibatnya kedua ujung usus yang tersisa harus dijahit kembali. Biasanya
pada keadaan ini diperlukan suatu kantong kolostomi, sehingga kotoran
yang melalui usus besar dapat dibuang melalui jalur lain. Pilihan ini
bukanlah suatu pilihan yang enak akan tetapi merupakan langkah yang
diperlukan untuk tetap hidup, mengingat pasien tidak mungkin tidak makan
sehingga usus juga tidak mungkin tidak terisi makanan / kotoran;
sementara ada bagian yang sedang memerlukan penyembuhan. Apa dan
bagaimana kelanjutan dari kolostomi ini adalah kondisional dan
individual, tiap pasien memiliki keadaan yang berbeda-beda sehingga
penanganannya tidak sama.
Bedah paliatif dikerjakan pada kasus terjadi penyebaran tumor yang
banyak, dengan tujuan membuang tumor primernya untuk menghindari
kematian penderita akibat ulah tumor primer tersebut. Terkadang tindakan
ini ditunjang kemoterapi dapat menyelamatkan jiwa. Bila penyebaran
tumor mengenai organ-organ vital maka pembedahan pun secara teknis
menjadi sulit, sehingga dokter mungkin memilih teknik bedah bypass atau
fecal diversion (pengalihan tinja) melalui lubang. Pilihan terakhir pada
kondisi terburuk adalah open-and-close, di mana dokter membuka daerah
operasinya, kemudian secara de facto melihat keadaan sudah sedemikian
rupa sehingga tidak mungkin dilakukan apa-apa lagi atau tindakan yang
akan dilakukan tidak memberikan manfaat bagi keadaan pasien, kemudian di
tutup kembali. Tindakan ini sepertinya sudah tidak pernah dilakukan
lagi mengingat sekarang sudah banyak tersedia laparoskopi dan radiografi
canggih untuk mendeteksi keberadaan dan kondisi kanker jauh sebelum
diperlukan operasi.
Terapi Non Bedah
Kemoterapi dilakukan sebagai suatu tindakan untuk mengurangi terjadinya
metastasis (penyebaran), perkembangan sel tumor, mengecilkan ukurannya,
atau memperlambat pertumbuhannya. Radioterapi jarang digunakan untuk
kanker kolon karena memiliki efek samping dan sulit untuk ditembakkan ke
bagian yang spesifik pada kolon. Radioterapi lebih sering pada kanker
rektal saja. Imunoterapi sedang dikembangkan sebagai terapi tambahan
untuk kanker kolorektal. Terapi lain yang telah diujicoba dan memberikan
hasil yang sangat menjanjikan adalah terapi Vaksin. Ditemukan pada
November 2006 lalu sebuah vaksin bermerek TroVax yang terbukti secara
efektif mengatasi berbagai macam kanker. Vaksin ini bekerja dengan cara
meningkatkan sistem imun penderita untuk melawan penyakitnya. Fase
ujicobanya saat ini sedang ditujukan bagi kanker ginjal dan direncanakan
untuk kanker kolon. Terapi lainnya adalah pengobatan yang ditujukan
untuk mengatasi metastasisnya (penyebaran tumornya).
Nah selain dari terapi non bedah di atas, yang juga tak kalah pentingnya
adalah Terapi Suportif. Diagnosis kanker sangat sering menimbulkan
pengaruh yang sangat besar pada kejiwaan penderitanya. Karenanya
dorongan dari rumah sakit, dokter, suami/istri, kerabat, keluarga,
social support group sangat penting bagi penderitanya.
5. Typus Abdominalis
Typus Abdominalis ( demam tipoid, enteric fever ) adalah penyakit
infeksi akut biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gajala demam
yang terjadi satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan
kesadaran.
Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Salmonella Typhosa. Merupakan kuman basil
gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai 3
macam antigen yoitu:
1. Antigen 0 : Somatik , terdiri dan zat komplek lipopoli sakarida.
2. Antigen H : Flagella
3. Antigen Vi : dalam serum penderita terdapat zat anti ( aglutinin )
terhadap ketiga macam antigen tersebut.
Epidemiologi
Di indonesia bersifat endemik , ditemukan biasanya pada anak berumur 1
tahun keatas.
Patogenesis
Infeksi terjadi pada saluran pencernaan . Basil diserap usus halus
melalui pembuluh limfe peredaran darah organ-organ terutama hati dan
limpa Basil yang tidak hancur berkembang biak pada organ tsb sehingga
membesar dan menimbulklan nyeri poda perabaan Basil. masuk kembali
peredaran darah (bakteriemia) menyebar keseluruh tubuh terutama
kekelenjer limfoid usus halus menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada
permukoan mucosa perdarahan dan perforasi usus gejala demam (akibat
endotoksin )dan gejala saluran pencernaan (akibat kelainan pada usus)
Gejala Klinis
Gejala pada anak-anak lebih ringan daripada orang dewasa. Masa inkubasi
rata-rata 10 - 20 hari, selama masa inkubasi ada gejala prodromal.
1. Demam
Pada kasus yang khas ,demam 3 minggu remiten. Minggu pertama suhu tubuh
terus meningkat setiap hari dan menurun pada pagi hari. dan meningkat
lagi disore hari. Minggu kedua terus dalam keadaan demam minggu ketiga
suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Napas berbau bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor, jarang disertai
tremor , perut kembung, hati dan limpa membesar. nyeri saat perabaan,
konstipasi, diare.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran menurun antara apatis sampai samnolen, jarang terjadi
sopor, koma atau gelisah.
4. Gejala lain-lainnya
Punggung dan anggota gerak mengalami keseleo, pada minggu pertama demam
baradikardi, epistaksis.
Relaps (Kambuh)
Berlangsung lebih ringan dan sangat singkat terjadi dalam minggu kedua
setelah suhu badan kembali normal.
Komplikasi
1. Pada Usus Halus
Jarang terjadi, tapi sering fatal yaitu
a. Perdarahan Usus.
Jika perdarahan banyak maka terjadi melena disertai nyeri perut dan
tanda renjatan
b. Perforasi Usus
Timbul biasanya pada minggu ketiga terjadi pada bagian distal ileum.
c. Peritonitis.
Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi .
ditemukan gejala abdomen yang akut yaitu nyeri perut yang sangat hebat,
dinding abdomen yang tegang ( defens musculair ) dan nyeri tekan.
2. Di luar Usus Halus
Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis yaitu meningits,
kolesistitis, ensefatopati, bronchopneumania ( akibat infeksi sekunder
), dehidrasi dan asidosis.
Diagnosis Banding
Bila terdapat demam lebih 1 minggu dan penyakit belum jelas bahwa karena
typus, maka dipertimbangkan penyakit seperti:
• Paratipoid A,B dan C • TBC
• Malaria • dengue
• Influenza • Pneumonia lobaris
Prognosis
Umumnya prognosis pada anak baik asal cepat diobati. Mortalitas yang
dirawat 6 %. dapat menjadi kurang baik jika:
a. demam tinggi atau febris kontinue
b. Kesadaran menurun sekali yaitu sopor, koma, atau delirium
c. Keadoab gizi penderita buruk
d. Adanya komplikasi yang berat yaitu dehidrasi dan asidosis,
peritonitis, bronchopnemonia.
Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan yang berguna untuk menyokong diagnosis
a. Pemeriksaan darah tepi: Terdapat gambaran leukopenia limfositisis
relatif dan aneosinofilik pada. Permulaan sakit, anemia dan
trombositopenia ringan.
b. Pemeriksaan sumsum tulang: Terdapat gambaran hiperaktif RES dengan
adanya makrofag, sedangkan sistem eritropoeisis, granulopoesis dn
trombopoesis berkurang.
2. Pemeriksaan laboratorium untuk membuat diagnosis dilakukun pada saat
penderita masuk dan setiap minggu berikutnya.
a. Biakan Empedu: Basil ditemukan pada darah pada minggu kedua sakit,
kemudian dapat ditemukan pula pada urin dan feses.
b. Pemeriksaan Widal: dasar pemeriksaan yaitu reaksi aglutinasi, positif
jika terjadi aglutinasi.
Pengobatan
a. Isolasi ,desinfeksi pakaian dan ekskretanya
b. Istirahat mutlak 2 minggu sampai suhu normal kembali
c. Diet.
Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan
makanan tidak boleh yang banyak mengandung serat, tidak merangsang, dan
tidak menimbulkan gas. Bila kesadaran menurun maka diberikan makan cair
melalui sonde.
d. Obat-obatan
Obat yang biasa digunakan adalah kloramfenikol dosis tinggi yaitu 100
mg/kgBB/hori diberikan 4 x sehari peroral atau intravena untuk
mempersingkat masa perawatan dan mencegah timbul kembali (relaps ). Jika
tidak cocok dengan kloramfenikol dapat diberi ampisilin, kotrimoksazol.
Bila terdapat komplikasi maka terapi dilakukan sesuai dengan
penyakitnya:
• bila terjadi dehidrasi dan asidosis maka diberikan cairan intravena
• bila terdapat bronkhopneumonia harus ditambahkan penisilin.
6. Ulkus Peptikum
Ulkus Peptikum adalah suatu luka terbuka yang berbentuk bundar atau oval
pada lapisan lambung atau usus dua belas jari (duodenum). Ulkus pada
lambung disebut ulkus gastrikum, sedangkan ulkus pada usus duabelas jari
disebut ulkus duodenalis.
Penyebab ulkus peptikum bisa disebabkan oleh bakteri (misalnya
Helicobacter pylori) atau obat-obatan yang menyebabkan melemahnya
lapisan lendir pelindung lambung dan duodenum sehingga asam lambung bisa
menembus lapisan yang sensitif di bawahnya.
Asam lambung dan bakteri dapat mengiritasi lapisan lambung dan duodenum
serta menyebabkan terbentuknya ulkus.
H. pylori biasanya ditularkan pada masa kanak-kanak, bisa melalui
makanan, air atau kontak dengan penderita infeksi H. pylori. Penyakit
menular ini lebih sering ditemukan pada orang dewasa yang berumur lebih
dari 60 tahun dan juga lebih sering ditemukan di negara-negara
berkembang. Sebagian besar orang yang memiliki H. pylori baru
menunjukkan gejala-gejala setelah mencapai usia lanjut, mereka bahkan
tidak menyadari bahwa mereka memiliki bakteri tersebut.
Meskipun H.pylori biasanya tidak menimbulkan masalah pada masa
kanak-kanak, tetapi jika tidak diobati bisa menyebabkan gastritis, ulkus
peptikum dan bahkan kanker lambung.
Para ahli sepakat bahwa penyebab utama dari ulkus peptikum pada orang
dewasa adalah bakteri Helicobacter pylori, tetapi tidak semua ahli
berpendapat bahwa penyebab utama dari ulkus pada masa kanak-kanak adalah
bakteri tersebut. Beberapa ahli mengemukakan perbedaan antara ulkus
duodenalis dan ulkus gastrikum; ulkus duodenalis biasanya disebabkan
oleh infeksi Helicobacter pylori, sedangkan ulkus gastrikum memiliki
penyebab yang lain. 50% dari kasus disebabkan oleh Helicobacter pylori
dan sisanya memiliki penyebab yang tidak diketahui secara pasti. Yang
pasti, ulkus peptikum jarang ditemukan pada anak-anak yang sehat.
Pada beberapa kasus, penyebabnya adalah pemakaian obat. Pemakaian NSAIDs
(non-steroid anti inflammatory drugs, obat anti peradangan non-steroid)
dosis menengah bisa menyebabkan kelainan saluran pencernaan dan
perdarahan pada beberapa anak.
Acetaminophen tidak menyebabkan ulkus gastrikum dan merupakan pilihan
NSAIDs yang baik bagi anak-anak.
Gejala nya adalah :
Pada bayi baru lahir, gejala awal dari ulkus peptikum bisa berupa adanya
darah di dalam tinja. Jika ulkus menyebabkan terbentuknya lubang
(perforasi) pada lambung atau usus halus, bayi bisa tampak kesakitan dan
cenderung timbul demam.
Pada bayi yang lebih tua dan anak kecil, selain di dalam tinjanya
ditemukan darah, juga disertai muntah atau nyeri perut berulang. Nyeri
seringkali semakin memburuk atau membaik jika anak makan. Nyeri juga
menyebabkan anak terbangun dari tidurnya pada malam hari.
Diagnosa untuk ulkus peptikum pada bayi dan anak kecil sulit untuk
didiagnosis, karena anak yang masih sangat muda tidak dapat mengemukakan
gejala yang dirasakannya secara tepat.
Anak usia sekolah mungkin dapat menunjukkan lokasi nyeri, menjelaskan
sifat nyeri dan saat timbulnya nyeri (sesudah makan atau pada
waktu-waktu tertentu). Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
• Barium enema
• Endoskopi
• Tes untuk H. pylori
Pengobatan ulkus peptikum pada anak-anak sama halnya dengan pengobatan
untuk orang dewasa, yaitu terdiri dari penghambat H2 (misalnya
ranitidin, famotidin dan cimetidin).
Kepada anak-anak yang memiliki Helicobacter pylori, diberikan terapi
amoxicillin dan metronidazol atau amoxicillin dan bismuth selama 1-2
minggu. Masa penyembuhan biasanya memerlukan waktu selama 8 minggu,
tetapi nyeri biasanya akan menghilang setelah beberapa hari.
Meskipun gejalanya telah mereda, obat harus diminum sampai habis agar
infeksi benar-benar reda.
Untuk meyakinkan bahwa pengobatan telah berhasil, 6-12 bulan kemudian
bisa dilakukan endoskopi untuk melihat H. pylori.
Angka kekambuhan infeksi H. pylori kurang dari 10%. Pada kasus yang
sangat berat, dimana anak tidak memberikan respon terhadap pengobatan,
biasanya dianjurkan untuk dilakukan pembedahan. Ulkus karena NSAIDs juga
tidak perlu diatasi dengan pembedahan dan tidak memerlukan terapi
antibiotik.
Pencegahan yang bisa dilakukan jika penyebabnya adalah NSAIDs,
sebaiknya hindari pemakaian NSAIDs, termasuk setiap obat yang mengandung
ibuprofen maupun aspirin
Jika tidak ada makanan tertentu yang diduga menjadi penyebab maupun
pemicu terjadinya ulkus, biasanya tidak dianjurkan untuk membatasi
pemberian makanan kepada anak-anak yang menderita ulkus. Makanan yang
bergizi dengan berbagai variasi makanan adalah penting untuk pertumbuhan
dan perkembangan anak. Alkohol dan merokok dapat memicu terbentuknya
ulkus. Selain itu, kopi, teh, soda dan makanan yang mengandung kafein
dapat merangsang pelepasan asam lambung dan memicu terbentuknya ulkus,
jadi sebaiknya makanan tersebut tidak diberikan kepada anak-anak yang
menderita ulkus.
B. Perubahan Fungsi Hati dan Kandung Empedu Terdiri Dari :
1. Hepatitis
Hepatitis adalah peradangan hati karena berbagai sebab. Hepatitis yang
berlangsung kurang dari 6 bulan disebut "hepatitis akut", hepatitis yang
berlangsung lebih dari 6 bulan disebut "hepatitis kronis".
Penyebab hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah satu
dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga
bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis
infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis
non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan.
Jenis Virus Hepatitis diantaranya :
• Virus hepatitis A : Virus hepatitis A terutama menyebar melalui tinja.
Penyebaran ini terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. Di
negara-negara berkembang sering terjadi wabah yang penyebarannya terjadi
melalui air dan makanan.
• Virus hepatitis B:Penularannya tidak semudah virus hepatitis A. Virus
hepatitis B ditularkan melalui darah atau produk darah. Penularan
biasanya terjadi diantara para pemakai obat yang menggunakan jarum
suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual (baik heteroseksual
maupun pria homoseksual).
Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada
bayi selama proses persalinan. Hepatitis B bisa ditularkan oleh orang
sehat yang membawa virus hepatitis B. Di daerah Timur Jauh dan Afrika,
beberapa kasus hepatitis B berkembang menjadi hepatitis menahun, sirosis
dan kanker hati.
• Virus hepatitis C : Menyebabkan minimal 80% kasus hepatitis akibat
transfusi darah. Virus hepatitis C ini paling sering ditularkan melalui
pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi
penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum jelas,
penderita "penyakit hati alkoholik" seringkali menderita hepatitis C.
• Virus hepatitis D : Hanya terjadi sebagai rekan-infeksi dari virus
hepatitis B dan virus hepatitis D ini menyebabkan infeksi hepatitis B
menjadi lebih berat. Yang memiliki risiko tinggi terhadap virus ini
adalah pecandu obat.
• Virus hepatitis E : Virus hepatitis E kadang menyebabkan wabah yang
menyerupai hepatitis A, yang hanya terjadi di negara-negara terbelakang.
• Virus hepatitis G : Jenis baru dari virus hepatitis yang telah
terdeteksi baru-baru ini.
Virus-virus lain yang dapat menyebabkan hepatitis :
• Virus Mumps
• Virus Rubella
• Virus Cytomegalovirus
• Virus Epstein-Barr
• Virus Herpes
Pengobatannya adalah :
• Calcium I + Cordyceps, cara pemakaian :
o pagi hari (1 jam setelah makan pagi) 2 kapsul Cordyceps
o siang hari (setelah makan siang) 1 sachet Calcium I + 2 kapsul
Cordyceps (1 jam setelah minum Calcium I)
o sore/malam hari (setelah makan malam) 2 kapsul Cordyceps
• Calcium I + Cordyceps + Zinc (Jika komposisi Calcium I + Cordyceps
saja belum cukup), Cara pemakaian :
o pagi hari (1 jam setelah makan pagi) 2 kapsul Cordyceps + 2 kapsul
Zinc
o siang hari (setelah makan siang) 1 sachet Calcium I + 2 kapsul
Cordyceps (1 jam setelah minum Calcium I) + 2 kapsul Zinc
o sore/malam hari (setelah makan malam) 2 kapsul Cordyceps + 2 kapsul
Zinc
• Cordyceps (paket hemat), Cara pemakaian 2 - 3 kapsul Cordyceps setiap
habis makan
Hepatitis A
Penyakit Hepatitis A disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh
kotoran/tinja penderita biasanya melalui makanan (fecal - oral), bukan
melalui aktivitas sexual atau melalui darah. Hepatitis A paling ringan
dibanding hepatitis jenis lain(B dan C). Sementara hepatitis B dan C
disebarkan melalui media darah dan aktivitas sexual dan lebih berbahaya
dibanding Hepatitis A.
Masa inkubasi, Waktu terekspos sampai kena penyakit kira-kira 2 sampai 6
minggu. anda akan mengalami gejala gejala seperti demam, lemah, letih,
dan lesu, pada beberapa kasus, seringkali terjadi muntah muntah yang
terus menerus sehingga menyebabkan seluruh badan terasa lemas. Demam
yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti demam yang
lainnya yaitu pada demam berdarah, tbc, thypus, dll.
Gejalanya, Seringkali tidak ada bagi anak kecil; demam tiba-tiba, hilang
nafsu makan, mual, muntah, penyakit kuning (kulit dan mata menjadi
kuning), air kencing berwarna tua, tinja pucat. Hepatitis A dapat dibagi
menjadi 3 stadium: (1) pendahuluan (prodromal) dengan gejala letih,
lesu, demam, kehilangan selera makan dan mual; (2) stadium dengan gejala
kuning (stadium ikterik); dan (3) stadium kesembuhan (konvalesensi).
Gejala kuning tidak selalu ditemukan. Untuk memastikan diagnosis
dilakukan pemeriksaan enzim hati, SGPT, SGOT. Karena pada hepatitis A
juga bisa terjadi radang saluran empedu, maka pemeriksaan gama-GT dan
alkali fosfatase dapat dilakukan di samping kadar bilirubin.
Masa pengasingan yang disarankan, Selama 2 minggu setelah gejala pertama
atau 1 minggu setelah penyakit kuning muncul.
Pencegahan, Menjaga kebersihan perorangan seperti mencuci tangan dengan
teliti; orang yang dekat dengan penderita mungkin memerlukan terapi
imunoglobulin. Imunisasi hepatitis A bisa dilakukan dalam bentuk sendiri
(Havrix) atau bentuk kombinasi dengan vaksin hepatitis B (Twinrix).
Imunisasi hepatitis A dilakukan dua kali, yaitu vaksinasi dasar dan
booster yang dilakukan 6-12 bulan kemudian, sementara imunisasi
hepatitis B dilakukan tiga kali, yaitu dasar, satu bulan dan 6 bulan
kemudian. Imunisasi hepatitis A dianjurkan bagi orang yang potensial
terinfeksi seperti penghuni asrama dan mereka yang sering jajan di luar
rumah.
Hepatitis B
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus
Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus[1] yang dapat
menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil
kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati.[2] Mula-mula
dikenal sebagai "serum hepatitis" dan telah menjadi epidemi pada
sebagian Asia dan Afrika.[3] Hepatitis B telah menjadi endemik di
Tiongkok dan berbagai negara Asia.[4]
Penyebab Hepatitis ternyata tak semata-mata virus. Keracunan obat, dan
paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida,
chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang
digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan
Hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau
diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di
dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun
yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat
lagi menetralkan racun-racun lain.
Diagnosis, Dibandingkan virus HIV, virus Hepatitis B (HBV) seratus kali
lebih ganas (infectious), dan sepuluh kali lebih banyak (sering)
menularkan. Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata.
Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang
disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis
ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam serum, tingginya
kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati.
Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa
nekroinflamasi. Sedangkan Hepatitis B kronis eksaserbasi adalah keadaan
klinis yang ditandai dengan peningkatan intermiten ALT>10 kali batas
atas nilai normal (BANN). Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis
didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan
histologi. Secara serologi, pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis
dan evaluasi infeksi Hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe
dan HBV DNA (4,5). Pemeriksaan virologi, dilakukan untuk mengukur jumlah
HBV DNA serum sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat
replikasi virus. Pemeriksaan biokimiawi yang penting untuk menentukan
keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan
adanya aktivitas kroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini
dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar
ALT yang menunjukkan proses nekroinflamasi yang lebih berat
dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal
memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh
sebab itu pasien dengan kadar ALT normal dipertimbangkan untuk tidak
diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses
nekroinflamasi aktif. Sedangkan tujuan pemeriksaan histologi adalah
untuk menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit
hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral.
Pada umumnya, gejala penyakit Hepatitis B ringan. Gejala tersebut dapat
berupa selera makan hilang, rasa tidak enak di perut, mual sampai
muntah, demam ringan, kadang-kadang disertai nyeri sendi dan bengkak
pada perut kanan atas. Setelah satu minggu akan timbul gejala utama
seperti bagian putih pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak
kuning dan air seni berwarna seperti teh.
Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap
virus Hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika
tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus,
pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien
tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh
bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus
berkembang menjadi hepatitis B kronis.
Penularan, Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius
dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya. Penderita Hepatitis B bisa
terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur. Ada beberapa hal
yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular.
• Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang
mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat
persalinan atau segera setelah persalinan.
• Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang
tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau
cukur dan sikat gigi secara bersama-sama serta hubungan seksual dengan
penderita.
Sebagai antisipasi, biasanya terhadap darah-darah yang diterima dari
pendonor akan di tes terlebih dulu apakah darah yang diterima reaktif
terhadap Hepatitis, Sipilis dan HIV.
Sesungguhnya, tidak semua yang positif Hepatitis B perlu ditakuti. Dari
hasil pemeriksaan darah, dapat terungkap apakah ada riwayat pernah kena
dan sekarang sudah kebal, atau bahkan virusnya sudah tidak ada. Bagi
pasangan yang hendak menikah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan
pasangannya untuk menenularan penyakit ini.
Perawatan, Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan
sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali
dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu
berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.
Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik
(menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.
Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B
kronis yang dapat meningkatkan kesempatan bagi seorang penderita
penyakit ini. Perawatannya tersedia dalam bentuk antiviral seperti
lamivudine dan adefovir dan modulator sistem kebal seperti Interferon
Alfa ( Uniferon).
Selain itu, ada juga pengobatan tradisional yang dapat dilakukan.
Tumbuhan obat atau herbal yang dapat digunakan untuk mencegah dan
membantu pengobatan Hepatitis diantaranya mempunyai efek sebagai
hepatoprotektor, yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang
dapat merusak sel hati, juga bersifat anti radang, kolagogum dan
khloretik, yaitu meningkatkan produksi empedu oleh hati. Beberapa jenis
tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan Hepatitis, antara
lain yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa),
sambiloto (Andrographis paniculata), meniran (Phyllanthus urinaria),
daun serut/mirten, jamur kayu/lingzhi (Ganoderma lucidum), akar
alang-alang (Imperata cyllindrica), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa),
pegagan (Centella asiatica), buah kacapiring (Gardenia augusta), buah
mengkudu (Morinda citrifolia), jombang (Taraxacum officinale).
Hepatitis C
Hepatitis C adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis C.[1]
Infeksi virus ini dapat menyebabkan peradangan hati (hepatitis) yang
biasanya asimtomatik, tetapi hepatitis kronik yang berlanjut dapat
menyebabkan sirosis hati dan kanker hati.
Virus hepatitis C menyebar dengan kontak darah-ke-darah dari darah
seseorang yang terinfeksi. Gejala dapat secara medis ditangani, dan
proporsi pasien dapat dibersihkan dari virus oleh pengobatan anti virus
jangka panjang. Walaupun intervensi medis awal dapat membantu, orang
yang mengalami infeksi virus hepatitis C sering mengalami gejala ringan,
dan sebagai sebab dari tidak melakukan perawatan.[1] Diperkirakan
150-200 juta orang di seluruh dunia terinfeksi hepatitis C. Di Amerika
Serikat, orang dengan sejarah penggunaan jarum suntik, penggunaan
narkoba, tato atau yang telah diekspos menuju darah melalui seks tidak
aman yang meningkatkan risiko penyakit ini. Hepatitis C adalah akibat
dari transplantasi hati di Amerika Serikat.
Hepatitis D
Hepatitis E
Informasi yang saya peroleh dari CDC penyebab Hepatitis E disebabkan
oleh Virus Hepatitis E. Adapun penyebarannya melalui makanan dan minuman
yang terkontaminasi oleh virus ini. virus ini menurut sumber diatas
lebih mudah menyebar pada daerah yang memiliki sanitasi yang buruk
tanda2 orang yang terkena hepatitis E ini mengalami Gejala-gejala lebih
sering dimiliki orang dewasa dari pada anak-anak. Jika ada, gejala
biasanya muncul secara tibatiba, seperti demam, rasa letih, hilang nafsu
makan, rasa mual, sakit perut, air seni berwarna tua, warna kekuningan
pada mata dan kulit. Penyakit Hepatitis E terjadi lebih parah pada
wanita hamil, terutama pada 3 bulan terakhir masa kehamilan. Masa
inkubasi hepatitis E rata-rata 40 hari (rentang: 15-60 hari) diagnosa
jika terjangkit virus ini apabila anda tidak terdiagnosa oleh Hipatitis
A,B,dan C
Hepatitis G
2. Kolelitiasis/ Batu Empedu
Sinonimnya adalah batu empedu, gallstones, biliary calculus. Istilah
kolelitiasis dimaksudkan untuk pembentukan batu di dalam kandung empedu.
Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur yang membentuk
suatu material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu
Klasifikasi, Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu
empedu di golongkankan atas 3 (tiga) golongan :
1. Batu kolesterol: Berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan
mengandung lebih dari 70% kolesterol
2. Batu kalsium bilirubinan (pigmen coklat): Berwarna coklat atau
coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat
sebagai komponen utama.
3. Batu pigmen hitam: Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak
berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak
terekstraksi.
Epidemiologi
Insiden kolelitiasis di negara barat adalah 20% dan banyak menyerang
orang dewasa dan usia lanjut. Angka kejadian di Indonesia di duga tidak
berbeda jauh dengan angka di negara lain di Asia Tenggara dan sejak tahu
1980-an agaknya berkaitan erat dengan cara diagnosis dengan
ultrasonografi.
Faktor Resiko
Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini.
Namun, semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang, semakin
besar kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut
antara lain :
1. Jenis Kelamin. Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena
kolelitiasis dibandingkan dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormon
esterogen berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh
kandung empedu. Kehamilan, yang menigkatkan kadar esterogen juga
meningkatkan resiko terkena kolelitiasis. Penggunaan pil kontrasepsi dan
terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol dalam kandung
empedu dan penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu (6).
2. Usia. Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan
bertambahnya usia. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk
terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih
muda (6, 7).
3. Berat badan (BMI). Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi,
mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi kolelitiasis. Ini karenakan
dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun
tinggi, dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/
pengosongan kandung empedu (6, 7).
4. Makanan. Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat
(seperti setelah operasi gatrointestinal) mengakibatkan gangguan
terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan
kontraksi kandung empedu (6).
5. Riwayat keluarga. Orang dengan riwayat keluarga kolelitiasis
mempunyai resiko lebih besar dibandingn dengan tanpa riwayat keluarga
(6, 7).
6. Aktifitas fisik. Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan
peningkatan resiko terjadinya kolelitiasis. Ini mungkin disebabkan oleh
kandung empedu lebih sedikit berkontraksi (7).
7. Penyakit usus halus. Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan
kolelitiasis adalah crohn disease, diabetes, anemia sel sabit, trauma,
dan ileus paralitik (7).
8. Nutrisi intravena jangka lama. Nutrisi intravena jangka lama
mengakibatkan kandung empedu tidak terstimulasi untuk berkontraksi,
karena tidak ada makanan/ nutrisi yang melewati intestinal. Sehingga
resiko untuk terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung empedu
(7).
Patofisiologi
Batu empedu yang ditemukan pada kandung empedu di klasifikasikan
berdasarkan bahan pembentuknya sebagai batu kolesterol, batu pigment dan
batu campuran. Lebih dari 90% batu empedu adalah kolesterol (batu yang
mengan dung > 50% kolesterol) atau batu campuran (batu yang
mengandung 20-50% kolesterol). Angka 10% sisanya adalah batu jenis
pigmen, yang mana mengandung <20 kolesterol. Faktor yang mempengaruhi
pembentukan batu antara lain adalah keadaan statis kandung empedu,
pengosongan kandung empedu yang tidak sempurna dan konsentrasi kalsium
dalam kandung empedu (11).
Batu kandung empedu merupakan gabungan material mirip batu yang
terbentuk di dalam kandung empedu. Pada keadaan normal, asam empedu,
lesitin dan fosfolipid membantu dalam menjaga solubilitas empedu. Bila
empedu menjadi bersaturasi tinggi (supersaturated) oleh substansi
berpengaruh (kolesterol, kalsium, bilirubin), akan berkristalisasi dan
membentuk nidus untuk pembentukan batu. Kristal yang yang terbentuk
terbak dalam kandung empedu, kemuadian lama-kelamaan kristal tersubut
bertambah ukuran,beragregasi, melebur dan membetuk batu. Faktor
motilitas kandung empedu, biliary stasis, dan kandungan empedu merupakan
predisposisi pembentukan batu empedu empedu (4, 8).
a. Batu kolesterol, Untuk terbentuknya batu kolesterol diperlukan 3
faktor utama :
- Supersaturasi kolesterol
- Hipomotilitas kandung empedu
- Nukleasi/ pembentukan nidus cepat.
Khusus mengenai nukleasi cepat, sekarang telah terbukti bahwa empedu
pasien dengankolelitiasis mempunyai zat yang mempercepat waktu nukleasi
kolesterol (promotor) sedangkan empedu orang normal mengandung zat yang
menghalangi terjadinya nukleasi.
b. Batu kalsium bilirunat (pigmen cokelat)
Batu pigmen cokelat terbentuk akibat adanya faktor stasis dan infeksi
saluran empedu. Stasis dapat disebabkan oleh adanya disfungsi sfingter
Oddi, striktur, operasi bilier, dan infeksi parasit. Bila terjadi
infeksi saluran empedu, khususnya E. Coli, kadar enzim B-glukoronidase
yang berasal dari bakteri akan dihidrolisasi menjadi bilirubin bebas dan
asam glukoronat. Kalsium mengikat bilirubin menjadi kalsium bilirubinat
yang tidak larut. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan adanya
hubungan erat antara infeksi bakteri dan terbentuknya batu pigmen
cokelat.umumnya batu pigmen cokelat ini terbentuk di saluran empedu
dalam empedu yang terinfeksi.
c. Batu pigmen hitam
Batu pigmen hitam adalah tipe batu yang banyak ditemukan pada pasien
dengan hemolisis kronik atau sirosis hati. Batu pigmen hitam ini
terutama terdiri dari derivat polymerized bilirubin. Potogenesis
terbentuknya batu ini belum jelas. Umumnya batu pigmen hitam terbentuk
dalam kandung empedu dengan empedu yang steril.
Batu kandung empedu dapat berpindah ke dalam duktus koledokus melalui
duktus sistikus. Didalam perjalanannya melalui duktus sistikus, batu
tersebut dapat menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial ataupun
komplit sehingga menimbulkan gejala kolik bilier. Pasase berulang batu
empedu melalui duktus sistikus yang sempit dapat menimbulkan iritasi dan
perlukaan sehingga dapat menimbulkan peradangan dinding duktus dan
striktur. Apabila batu berhenti di dalam duktus sistikus dikarenakan
diameter batu yang terlalu besar atau pun karena adanya striktur, batu
akan tetap berada di sana sebagai batu duktus sistikus.
Kolelitiasis asimtomatis biasanya diketahui secra kebetulan, sewaktu
pemeriksaan ultrasonografi, foto polos abdomen, atau perabaan saat
operasi. Pada pemeriksaan fisik atau laboratorium biasanya tidak
ditemukan kelainan.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis :
1. Asimtomatik
2. Obstruksi duktus sistikus
3. Kolik bilier
4. Kolesistitis akut
- Empiema
- Perikolesistitis
- Perforasi
5. Kolesistitis kronis
- Hidrop kandung empedu
- Empiema kandung empedu
- Fistel kolesistoenterik
- Ileus batu empedu (gallstone ileus)
—- Kolesistokinin yang disekresi oleh duodenum karena adanya makanan
mengakibatkan/ menghasilkan kontraksi kandung empedu, sehingga batu yang
tadi ada dalam kandung empedu terdorong dan dapat menutupi duktus
sistikus, batu dapat menetap ataupun dapat terlepas lagi. Apabila batu
menutupi duktus sitikus secara menetap maka mungkin akan dapat terjadi
mukokel, bila terjadi infeksi maka mukokel dapat menjadi suatu empiema,
biasanya kandung empedu dikelilingi dan ditutupi oleh alat-alat perut
(kolon, omentum), dan dapat juga membentuk suatu fistel
kolesistoduodenal. Penyumbatan duktus sistikus dapat juga berakibat
terjadinya kolesistitis akut yang dapat sembuh atau dapat mengakibatkan
nekrosis sebagian dinding (dapat ditutupi alat sekiatrnya) dan dapat
membentuk suatu fistel kolesistoduodenal ataupun dapat terjadi perforasi
kandung empedu yang berakibat terjadinya peritonitis generalisata.
Batu kandung empedu dapat maju masuk ke dalam duktus sistikus pada saat
kontraksi dari kandung empedu. Batu ini dapat terus maju sampai duktus
koledokus kemudian menetap asimtomatis atau kadang dapat menyebabkan
kolik. Batu yang menyumbat di duktus koledokus juga berakibat terjadinya
ikterus obstruktif, kolangitis, kolangiolitis, dan pankretitis.
—- Batu kandung empedu dapat lolos ke dalam saluran cerna melalui
terbentuknya fistel kolesitoduodenal. Apabila batu empedu cukup besar
dapat menyumbat pad bagian tersempit saluran cerna (ileum terminal) dan
menimbulkan ileus obstruksi.
Diagnosis
1. Anamnesis
Setengah sampai duapertiga penderita kolelitiasis adalah asintomatis.
Keluhan yang mungkin timbul adalah dispepdia yang kadang disertai
intoleran terhadap makanan berlemak. Pada yang simtomatis, keluhan utama
berupa nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas atau
perikomdrium. Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang mungkin
berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang baru menghilang beberapa jam
kemudian. Timbulnya nyeri kebanyakan perlahan-lahan tetapi pada 30%
kasus timbul tiba-tiba.
Penyebaran nyeri pada punggung bagian tengah, skapula, atau ke puncak
bahu, disertai mual dan muntah. Lebih kurang seperempat penderita
melaporkan bahwa nyeri berkurang setelah menggunakan antasida. Kalau
terjadi kolelitiasis, keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu
menarik nafas dalam.
2. Pemeriksaan Fisik
1. Batu kandung empedu
Apabila ditemukan kelainan, biasanya berhubungan dengan komplikasi,
seperti kolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum, hidrop
kandung empedu, empiema kandung empedu, atau pangkretitis. Pada
pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum didaerah letak
anatomis kandung empedu. Tanda Murphy positif apabila nyeri tekan
bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang karena kandung empedu
yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti
menarik nafas.
2. Batu saluran empedu
Baru saluran empedu tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang. Kadang
teraba hatidan sklera ikterik. Perlu diktahui bahwa bila kadar bilirubin
darah kurang dari 3 mg/dl, gejal ikterik tidak jelas. Apabila sumbatan
saluran empedu bertambah berat, akan timbul ikterus klinis.
3. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Batu kandung empedu yang asimtomatik umumnya tidak menunjukkan kelainan
pada pemeriksaan laboratorium. Apabila terjadi peradangan akut, dapat
terjadi leukositosis. Apabila terjadi sindroma mirizzi, akan ditemukan
kenaikan ringan bilirubin serum akibat penekanan duktus koledukus oleh
batu. Kadar bilirubin serum yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu di
dalam duktus koledukus. Kadar fosfatase alkali serum dan mungkin juga
kadar amilase serum biasanya meningkat sedang setiap setiap kali terjadi
serangan akut.
2. Pemeriksaan radiologis
- Foto polos Abdomen
Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena
hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang
kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi
dapat dilihat dengan foto polos. Pada peradangan akut dengan kandung
empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat
sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran
udara dalam usus besar, di fleksura hepatika.
- Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitifitas yang
tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu
intrahepatik maupun ekstra hepatik. Dengan USG juga dapat dilihat
dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem yang
diakibatkan oleh peradangan maupun sebab lain. Batu yang terdapat pada
duktus koledukus distal kadang sulit dideteksi karena terhalang oleh
udara di dalam usus. Dengan USG punktum maksimum rasa nyeri pada batu
kandung empedu yang ganggren lebih jelas daripada dengan palpasi biasa
(1).
- Kolesistografi
Untuk penderita tertentu, kolesistografi dengan kontras cukup baik
karena relatif murah, sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu
radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu.
Kolesistografi oral akan gagal pada keadaan ileus paralitik, muntah,
kadar bilirubun serum diatas 2 mg/dl, okstruksi pilorus, dan hepatitis
karena pada keadaan-keadaan tersebut kontras tidak dapat mencapai hati.
Pemeriksaan kolesitografi oral lebih bermakna pada penilaian fungsi
kandung empedu.
Penatalaksanaan
Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan.
Nyeri yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan
menghindari atau mengurangi makanan berlemak. Pilihan penatalaksanaak
antara lain :
1. Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien denga
kolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat
terjadi adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien.
Angka mortalitas yang dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%.
Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris
rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.
2. Kolesistektomi laparaskopi
Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanya
kolesistitis akut. Karena semakin bertambahnya pengalaman, banyak ahli
bedah mulai melakukan prosedur ini pada pasien dengan kolesistitis akut
dan pasien dengan batu duktus koledokus. Secara teoritis keuntungan
tindakan ini dibandingkan prosedur konvensional adalah dapat mengurangi
perawatan di rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan, pasien dapat cepat
kembali bekerja, nyeri menurun dan perbaikan kosmetik. Masalah yang
belum terpecahkan adalah kemanan dari prosedur ini, berhubungan dengan
insiden komplikasi 6r seperti cedera duktus biliaris yang mungkin dapat
terjadi lebih sering selama kolesistektomi laparaskopi.
3. Disolusi medis
Masalah umum yang mengganggu semua zat yang pernah digunakan adalah
angka kekambuhan yang tinggi dan biaya yang dikeluarkan. Zat disolusi
hanya memperlihatkan manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol.
Penelitian prospektif acak dari asam xenodeoksikolat telah
mengindikasikan bahwa disolusi dan hilangnnya batu secara lengkap
terjadi sekitar 15%. Jika obat ini dihentikan, kekambuhan batu tejadi
pada 50% pasien.
4. Disolusi kontak
Meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol yang poten
(metil-ter-butil-eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu melalui kateter
yang diletakkan per kutan telah terlihat efektif dalam melarutkan batu
empedu pada pasien-pasien tertentu. Prosedur ini invasif dan kerugian
utamanya adalah angka kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun).
5. Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL)
Sangat populer digunakan beberapa tahun yang lalu, analisis
biaya-manfaat pad saat ini memperlihatkan bahwa prosedur ini hanya
terbatas pada pasien yang telah benar-benar dipertimbangkan untuk
menjalani terapi ini.
6. Kolesistotomi
Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia lokal bahkan di
samping tempat tidur pasien terus berlanjut sebagai prosedur yang
bermanfaat, terutama untuk pasien yang sakitnya kritis.
3. Kolesistitis
Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan reaksi
inflamasi akut dinding kandung empedu disertai keluhan nyeri perut kanan
atas, nyeri tekan dan panas badan.Dikenal klasifikasi kolesistitis
yaitu kolesistitis akut serta kronik.
Epidemiologi, Sejauh ini belum ada data epidemiologis penduduk,insidensi
kolesistitis di Negara kita relative lebih rendah di banding
negara-negara barat.
Etiologi, Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis
adalah stasis cairan empedu, infeksi kuman dan iskemia dinding kandung
empedu.Adapun penyebab lainnya seperti kepekatan cairan
empedu,kolesterol,lisolesitin dan progstaglandin yang merusak lapisan
mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan
supurasi.
Patogenesis, Umumnya kolesistitis sangat berhubungan dengan
kolelithiasis. Kolesistitis dapat terjadi sebagai akibat dari jejas
kimiawi oleh sumbatan batu empedu yang menjadi predisposisi terjadinya
infeksi atau dapat pula terjadi karena adanya ketidakseimbangan
komposisi empedu seperti tingginya kadar garam empedu atau asam empedu,
sehingga menginduksi terjadinya peradangan akibat jejas kimia.
Manifestasi Klinis:
• Kolesistitis akut:
Biasa terjadi pada wanita dengan kegemukan dan diatas 40 tahun, namun
tidak menutup kemungkinan semua golongan untuk terkena penyakit ini
nyeri, timbul larut malam atau pada dini hari, biasa pada abdomen kanan
atas atau epigastrium dan teralihkan ke bawah angulus scapula dokter,
bahu kanan atau yang ke sisi kiri, kadang meniru nyeri angina pectoris.
Nyeri dapat berlangsung 30-60 menit tanpa peredaan, berbeda dengan
spasme yang cuma berlangsung singkat pada kolik bilier. Serangan dapat
muncul setelah makan makanan besar atau makanan berlemak larut malam
atau tindakan sederhana seperti palpasi abdomen atau menguap.
Penderita berkeringat kadang dapat terbaring tidak bergerak dalam posisi
melekuk.
Fatulens dan mual biasa ditemukan, tetapi tak biasa muntah, kecuali bila
pada ductus choledocus ada batu.
Selain itu, bentuk nyeri yang dapat muncul adalah nyeri distensi karena
kontraksi vesica biliaris untuk atasi sumbatan duktus sistikus. Nyerinya
terletak profunda, sentral dan tidak ada rigiditas otot. Nyeri
peritoneum superficialis terhadap rasa tekan pada kulit, ada rigiditas
otot, hiperestesia. Fundus vesica biliaris dipersarafi oleh enam nervus
intercostalis terakhir dan phrenicus, sehingga rangsangan pada bagian
anterior menimbulkan nyeri pada kuadran kanan atas dan cabang kulit
posterior menyebabkan nyeri infrascapula kanan yang khas. Nyeri yang
dialihkan ke punggung dan kuadran kanan atas berasal dari nervus
spinalis karena nervus ini meluas jarak singkat ke mesenterium dan
ligamentum hepatogastricum sekeliling dutus bilifer.
Sebagai tanda adanya inflamasi biasanya ada demam dan peningkatan hitung
sel darah putih.
• Kolesistitis kronik
Manifestasi klinisnya antara lain adanya serangan berulang namun tidak
mencolok. Mual, muntah dan tidak tahan makanan berlemak. Pemeriksaan
fisis dan penunjang:
• Pemeriksaan ultra sonografi(USG) Pemeriksaan ini sebaiknya dikerjakan
secara rutin dan sangat bermanfaat untuk memperlihatkan besar, bentuk,
penebalan dinding kandung empedu, batu dan saluran empedu extra
hepatic.Nilai kepekaan dan ketepatan USG mencapai 90% - 95%.
Penatalaksanaan
1.Konservatif pada keadaan akut:
a) bila penyakit berat, pasien perlu dirawat dan diberi cairan infus
b) istirahat baring
c) puasa, pasang pipa nasogastrik
d) analgesuk, antibiotik
2. bila gagal dengan pengobatan konservatif atau terdapat toksemia yang
progresif, perlu dilakukan kolesistektomi. Hal ini perlu untuk mencegah
komplikasi. Sebaiknya kolesistektomi dikerjakan pula pada serangan yang
berulang- ulang.
Kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu,
biasanya merupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus
sistikus, yang secara tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar
biasa. Penyebab, Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut,
memiliki batu empedu. Kadang suatu infeksi bakteri menyebabkan
terjadinya peradangan.
Kolesistitis akut tanpa batu merupakan penyakit yang serius dan
cenderung timbul setelah terjadinya: cedera, pembedahan, luka bakar,
sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh), penyakit-penyakit yang
parah (terutama penderita yang menerima makanan lewat infus dalam jangka
waktu yang lama). Sebelum secsara tiba-tiba merasakan nyeri yang luar
biasa di perut bagian atas, penderita biasanya tidak menunjukan
tanda-tanda penyakit kandung empedu.
Gejala, tanda awal dari peradangan kandung empedu biasanya berupa nyeri
di perut kanan bagian atas. Nyeri bertambah hebat bila penderita
menarik nafas dalam dan sering menjalar ke bahu kanan. Biasanya terdapat
mual dan muntah.
Jika dokter menekan perut kanan sebelah atas, penderita akan merasakan
nyeri tajam.
Dalam beberapa jam, otot-otot perut sebelah kanan menjadi kaku. Pada
mulanya, timbul demam ringan, yang semakin lama cenderung meninggi.
Biasanya serangan nyeri berkurang dalam 2-3 hari dan kemudian menghilang
dalam 1 minggu.
Komplikasi
• Demam tinggi, menggigil, peningkatan jumlah leukosit dan berhentinya
gerakan usus (ileus) dapat menunjukkan terjadinya abses, gangren atau
perforasi kandung empedu.
• Serangan yang disertai jaundice (sakit kuning) atau arus balik dari
empedu ke dalam hati menunjukkan bahwa saluran empedu telah tersumbat
sebagian oleh batu empedu atau oleh peradangan.
• Jika pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase,
mungkin telah terjadi peradangan pankreas (pankreatitis) yang disebabkan
oleh penyumbatan batu empedu pada saluran pankreas (duktus
pankreatikus).
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil dari
pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan USG bisa membantu memperkuat adanya
batu empedu dalam kandung empedu dan bisa menunjukkan penebalan pada
dinding kandung empedu.
Diagnosis yang paling akurat diperoleh dari pemeriksaan skintigrafi
hepatobilier, yang memberikan gambaran dari hati, saluran empedu,
kandung empedu dan bagian atas usus halus.
Pengobatan, penderita dengan kolesistitis akut pada umumnya dirawat di
rumah sakit, diberikan cairan dan elektrolit intravena dan tidak
diperbolehkan makan maupun minum.
Mungkin akan dipasang pipa nasogastrik untuk menjaga agar lambung tetap
kosong sehingga mengurangi rangsangan terhadap kandung empedu.
Antibiotik diberikan sesegera mungkin jika dicurigai kolesistitis akut.
Jika diagnosis sudah pasti dan resikonya kecil, biasanya dilakukan
pembedahan untuk mengangkat kandung empedu pada hari pertama atau kedua.
Jika penderita memiliki penyakit lainnya yang meningkatkan resiko
pembedahan, operasi ditunda dan dilakukan pengobatan terhadap
penyakitnya. Jika serangannya mereda, kandung empedu bisa diangkat 6
minggu kemudian atau lebih.
Jika terdapat komplikasi (misalnya abses, gangren atau perforasi kandung
empedu), diperlukan pembedahan segera.
Sebagian kecil penderita akan merasakan episode nyeri yang baru atau
berulang, yang menyerupai serangan kandung empedu, meskipun sudah tidak
memiliki kandung empedu.
Penyebab terjadinya episode ini tidak diketahui, tetapi mungkin
merupakan akibat dari fungsi sfingter Oddi yang abnormal. Sfingter Oddi
adalah lubang yang mengatur pengaliran empedu ke dalam usus halus. Rasa
nyeri ini mungkin terjadi akibat peningkatan tekanan di dalam saluran
yang disebabkan oleh penahanan aliran empedu atau sekresi pankreas.
Untuk melebarkan sfingter Oddi bisa digunakan endoskopi. Hal ini
biasanya akan mengurangi gejala pada penderita yang memiliki kelainan
sfingter, tetapi tidak akan membantu penderita yang hanya memiliki nyeri
tanpa disertai kelainan pada sfingter.
DAFTAR PUSTAKA
http://addthis.com/bookmark.php.com
Arief. Mengenal Kanker Kolon. (2008).
NN. Sunday 10 of December, 2006. Megakolon Kongenital.
http://fkuii.org/tikiindex.php?page=Megacolon+kongenital8
wikipedia.com
Aziz Alimul Hidayat. 2005. Pengantar Keperawatan Anak II Edisi I.
Salemba Medika. Jakarta
Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI : Jakarta
Nelson. 1998. Ilmu Kesehatan Anak: Ilmu Pediatric Perkembangan edisi
kedua. EGC. Jakarta.
NN. Diakses 22 November 2007. Hirschsprung Disease.
http://medlinux.blogspot.com/2007/09/hirschsprung-disease.html
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Zuckerman AJ (1996). Hepatitis Viruses. In: Baron's Medical Microbiology
(Baron S et al, eds.), 4th ed., Univ of Texas Medical Branch. ISBN
0-9631172-1-1.
CBN Portal. Swipa. Diakses pada 10 Maret 2007
Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology, 4th ed.,
McGraw Hill, pp. 544 51. ISBN 0-8385-8529-9.
Alberts B, Johnson A, Lewis J, Raff M, Roberts K, Walter P (2002).
Molecular Biology of the Cell, 4th, Garland. NCBI Bookshelf) ISBN
0-8153-3218-1.
Republika Online. Swipa. Diakses pada 10 Maret 2007
Tabloid Nova Online. Swipa.
Website Resmi Kalbe Farma. Swipa.
Ikatan Dokter Indonesia. Swipa. Diakses pada 10 Maret 2007
Dinas Kesehatan Jakarta. Swipa. Diakses pada 10 Maret 2007
Lau GKK et al (2005). "Peginterferon Alfa-2a, lamivudine, and the
combination for HBeAg-positive chronic hepatitis B". N Engl J Med 352
(26): 2682-95. PMID 15987917.
Amecav onlus Associazione Malattie Epatiche e Cardiovascolari Onlus
CDC's Hepatitis C Frequently Asked Questions
Hepatitis C homepage of the UK National Health Service
Lesmana L. Batu empedu. Dalam : Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid I. Edisi
3. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2000. 380-384.
Schwartz S, Shires G, Spencer F. Prinsip-prinsip Ilmu Bedah (Principles
of Surgery). Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2000.
459-464.
Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. 570-579.
Maryan Lee F, Chiang W. Cholelithiasis. Avaliable from :
http://www.emedicine.com/emerg/Gastrointestinal/topic97.htm. Last update
12 Juni 2006 [diakses pada tanggal 22 Januari 2008].
Mansjoer,Arif M.2001.Kapita Selekta Kedokteran .Jakarta :Media
Aesculapius
Moory,Mary Courney.1997.Buku Pedoman Terapi Diet dan Nutrisi.Jakarta :
EGC
Sherwood,L.2001.Fisiologi Manusia.Jakarta :EGC
Wilkison, Judit M. 2006. Buku Saku Diagnisis Keperawatan. Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar