muhammadwahyuputra69.blogspotcom
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Chikungunya yang pertama kali ditemukan di Afrika Barat ini
berlaku pada tahun 1952 hingga 1953. Sejurus kemudian, epidemik berlaku
di Filiphina(1954, 1956, dan 1968)
Thailand, Kamboja, Vietnam, India, Myanmar, Sri Lanka, dan mulai
ditemukan di Indonesia pada tahun 1973. Namun sekarang telah tersebar
luas di Afrika daerah sebelah selatan Sahara, Asia Selatan, dan Asia
Tenggara. Demam Chikungunya di Indonesia dilaporkan pertama kali di
Samarinda, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Martapura, Ternate,
Yogyakarta, selanjutanya berkembang ke wilayah-wilayah lain. Jumlah
kasus chikungunya tahun 2001 sampai bulan Februari 2003 mencapai 9318
tanpa kematian.
Sejak tahun 2003, terdapat beberapa wabah yang berlaku di kepulauan
Pasifik termasuk Madagaskar, Comoros, Mauritius dan La Reunion, dengan
jumlah meningkat terlihat selepas bencana tsunami pada Desember 2004.
Chikungunya berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada
penderita, yang berarti “posisi tubuh meliuk atau melengkung” (that
which contorts or bends up),mengacu pada postur penderita yang
membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini,
menurut lembar data keselamatan (MSDS) Kantor Keamanan Laboratorium
Kanada, terutama terjadi pada lutut, pergelangan kaki, persendian tangan
dan kaki.
Masih banyak anggapan di kalangan masyarakat, bahwa demam Chikungunya
sebagai penyakit yang berbahaya, sehingga membuat panik. Tidak jarang
pula orang meyakini bahwa penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan
sehingga penderita tidak mampu bergerak (break-bone fever). Karena itu,
penyakit Chikungunya sering disebut sebagai “flu tulang”. Penyakit ini
memang belum begitu dikenal tapi yang menguntungkan adalah penyakit ini
tidak mematikan. Penyakit ini diperihalkan untuk pertama kali oleh
“Marion Robinson” dan “W.H.R. Lumsden” pada tahun 1955.
Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya yang
disebarkan ke manusia melalui gigitan nyamuk. Sebagai penyebar penyakit
adalah nyamuk Aedes aegypti; juga dapat oleh nyamuk Aedes albopictus.
Nama penyakit berasal dari bahasa Swahili yang berarti “yang berubah
bentuk atau bungkuk”, mengacu pada postur penderita yang membungkuk
akibat nyeri sendi yang hebat Masa inkubasi berkisar 1-4 hari, merupakan
penyakit yang self-limiting dengan gejala akut yang berlangsung 3-10
hari.
Nyeri sendi merupakan keluhan utama pasien, yang kadang-kadang
berlangsung beberapa minggu sampai bulan. Meskipun tidak pernah
dilaporkan menyebabkan kematian, masyarakat sempat dicemaskan karena
penyebaran penyakit yang mewabah, disertai dengan keluhan sendi yang
mengakibatkan pasien lumpuh. Untuk memahami lebih mendalam, dilakukan
review terhadap penyakit ini.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman yang nyata secara langsung dalam melakukan
asuhan keperawatan pada klien penyakit Chikungunya.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian pada klien penyakit Chikungunya
b. Dapat membuat diagnosa berdasarkan prioritas masalah pada klien
penyakit chikungunya.
c. Dapat membuat rencana keperawatan sesuai rencana keperawatan
d. Dapat melakukan tindakan keperawatan sesuai rencana keperawatan
e. Dapat mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilakukan
f. Dapat mendokumentasikan Asuhan Keperawatan.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya yang
disebarkan ke manusia melalui gigitan nyamuk. Sebagai penyebar penyakit
adalah nyamuk Aedes aegypti; juga dapat oleh nyamuk Aedes albopictus.
Nama penyakit berasal dari bahasa Swahili yang berarti “yang berubah
bentuk atau bungkuk”, mengacu pada postur penderita yang membungkuk
akibat nyeri sendi yang hebat Masa inkubasi berkisar 1-4 hari, merupakan
penyakit yang self-limiting dengan gejala akut yang berlangsung 3-10
hari.
Nyeri sendi merupakan keluhan utama pasien, yang kadang-kadang
berlangsung beberapa minggu sampai bulan. Meskipun tidak pernah
dilaporkan menyebabkan kematian, masyarakat sempat dicemaskan karena
penyebaran penyakit yang mewabah, disertai dengan keluhan sendi yang
mengakibatkan pasien lumpuh. Untuk memahami lebih mendalam, dilakukan
review terhadap penyakit ini.
B. Etiologi dan Fatogenesis
Virus chikungunya merupakan anggota genus Alphavirus dalam family
Togaviridae. Strain asia merupakan genotype yang berbeda dengan yang di
afrika. Virus Chikungunya disebut juga Arbovirus A Chikungunya Type
CHIK, CK. Virus Chikungunya masuk keluarga Togaviridae, genus
alphavirus. Virions mengandung satu molekul single standed RNA. Virus
dapat menyerang manusia dan hewan. Virions dibungkus oleh lipid
membrane; plemorfik; spherical; dengan diameter 70 µm. Pada permukaan
envelope didaptkan glycoprotein spikes (terdiri atas 2 virus protein
membentuk heterodimer). Nucleopapsids isometric; dengan diameter 40 µm.
Nyamuk Aedes aegypti berukuran kecil disbanding nyamuk lain: ukuran
badan 3-4 mm, berwarna hitam dengan hiasan titik-titik putih dibadannya;
dan pada kakinya warna putih melingkar. Nyamuk dapat hidup
berbulan-bulan. Nyamuk jantan tidak menggigit manusia, ia makan buah.
Hanya nyamuk betina yang menggigit; yang diperlukan untuk membuat telur.
Telur nyamuk aedes diletakkan induknya menyebar; berbeda dengan telur
nyamuk lain yang dikeluarkan berkelompok. Nyamuk bertelur di air bersih.
Telur menjadi pupa dalam beberapa minggu. Nyamuk bila terbang hampir
tidak mengeluarkan bunyi; sehingga manusia yang diserang tidak
mengetahui kehadirannya; menyerang dari bawah atau dari belakang;
terbang sangat cepat. Telur nyamuk Aedes dapat bertahan lama dalam
kekeringan (dapat lebih dari 1 tahun). Virus dapat masuk dari nyamuk ke
telur; nyamuk dapat bertahan dalam air yang chlorinated. Nyamuk Aedes
aegypti merupakan vector Chikungunya (CHIK) virus (alpha virus).
Beberapa nyamuk resisten terhadap CHIK virus namun sebagian susceptible.
Ternyata Susceptbility gene berada di kromosom 3. Vektor Chikunguya di
Asia adalah Aedes aegypti, Aedes albopticus. Di Afrika adalah Aedes
furcifer dan Aedes africanus
C. Manifestasi Penyakit
Masa inkubasi dari demam Chikungunya 2-4 hari. Viremia dijumpai
kebanyakan dalam 48 jam pertama, dan dapat dijumpai sampai 4 hari pada
beberapa pasien. Manifestasi penyakit berlangsung 3-10 hari. Virus ini
termasuk self limiting diseases alias hilang dengan sendirinya. Namun
rasa nyeri sendi mungkin masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai
bulan. Gejala demam Chikungunya mirip dengan demam berdarah dengue yaitu
demam tinggi, menggigil, sakit kepala, mual-muntah, sakit perut, nyeri
sendi dan otot, serta bintik-bintik merah dikulit terutama badan dan
lengan. Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada
perdarahan hebat, renjatan (syock) maupun kematian. Nyeri sendi ini
terutama mengenai sendi lutut, pergelangan kaki serta persendian jari
tangan dan kaki.
Gejala utama Chikungunya adalah demam tinggi, sakit kepala, punggung,
sendi yang hebat, mual, muntah, nyeri mata dan timbulnya rash/ruam
kulit. Ruam kulit berlangsung 2-3 hari, demam berlangsung 2-5 hari dan
akan sembuh dalam waktu 1 minggu sejak pasien jatuh sakit. Sakit sendi
(arthralgia atau arthritis; sendi tangan dan kaki) sering menjadi
keluhan utamapasien. Keluhan sakit sendi kadang-kadang masih terasa
dalam 1 bulan setelah demam hilang. Penyakit ini merupakan penyakit yang
bersifat self limiting (sembuh dengan sendirinya) dan tidak brakibat
kematian. Peranh dilaporkan terjadi kerusakan sendi yang dikaitkan
dengan infeksi Chikungunya.
D. Epidemiologi
1) Sejarah
Penyakit yang pertama kali ditemukan di Afrika Barat ini berlaku pada
tahun 1952 hingga 1953. Sejurus kemudian, epidemik berlaku di
Filiphina(1954, 1956, dan 1968)
Thailand, Kamboja, Vietnam, India, Myanmar, Sri Lanka, dan mulai
ditemukan di Indonesia pada tahun 1973. Namun sekarang telah tersebar
luas di Afrika daerah sebelah selatan Sahara, Asia Selatan, dan Asia
Tenggara. Demam Chikungunya di Indonesia dilaporkan pertama kali di
Samarinda, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Martapura, Ternate,
Yogyakarta, selanjutanya berkembang ke wilayah-wilayah lain. Jumlah
kasus chikungunya tahun 2001 sampai bulan Februari 2003 mencapai 9318
tanpa kematian.
Sejak tahun 2003, terdapat beberapa wabah yang berlaku di kepulauan
Pasifik termasuk Madagaskar, Comoros, Mauritius dan La Reunion, dengan
jumlah meningkat terlihat selepas bencana tsunami pada Desember 2004.
2) Penularanya
Penularan demam Chikungunya terjadi apabila penderita yang sakit digigit
oleh nyamuk penular , kemudian nyamuk penular tersebut menggigit orang
lain. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah
endemis (berlaku dengan kerap di suatu kawasan atau populasi dan
senantiasa ada). Selain manusia, primata lainnya diduga dapat menjadi
sumber penularan. Selain itu, pada uji hemaglutinasi inhibisi, mamalia,
tikus, kelelawar, dan burung juga bisa mengandung antibodi terhadap
virus Chikungunya.
Seseorang yang telah dijangkiti penyakit ini tidak dapat menularkan
penyakitnya itu kepada orang lain secara langsung. Proses penularan
hanya berlaku pada nyamuk pembawa. Masa inkubasi dari demam Chikungunya
berlaku di antara satu hingga tujuh hari, biasanya berlaku dalam waktu
dua hingga empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tga sampai
sepuluh hari.
E. Gejala
Gejala penyakit ini sangat mirip dengan demam berdarah. Hanya saja kalau
Chikungunya akan membuat semua persendian terasa ngilu.
1. Demam
Biasanya demam tinggi, timbul mendadak disertai menggigil dan muka
kemerahan.
Demam penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mencapai 39-40 derajat
C.
2. Sakit persendian
Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam
dan dapat bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita “merasa
lumpuh” sebelum berobat. Sendi yang sering sering dikeluhkan: sendi
lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang.
3. Nyeri otot
Nyeri bisa pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah
bahu. Kadang terjadi pembengkakan pada otot sekitar mata kaki.
4. Bercak kemerahan (ruam) pada kulit
Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih
sering pada hari ke 4-5 demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan,
tangan, dan kaki, terutama badan dan lengan. Kadang ditemukan perdarahan
pada gusi.
5. Sakit kepala
Sakit kepala merupakan keluhan yang sering ditemui, conjungtival
injection dan sedikit fotophobia.
6. Kejang dan penurunan kesadaran
Kejamg biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi, jadi bukan
secara langsung oleh penyakitnya.
7. Gejala lain
Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening
di bagian leher dan kolaps pembuluh darah kapiler.
Gejala yang timbul pada anak-anak sangat berbeda seperti nyeri sendi
tidak terlalu nyata dan berlangsung singkat. Ruam juga lebih jarang
terjadi. Tetapi pada bayi dan anak kecil timbul:
• Kemerahan pada wajah dan munculnya ruam kemerahan dalam bentuk
papel-papel (maculopapular) atau erupsi seperti biduran (urtikaria).
• Rasa linu di persendian tangan dan kaki serta pergelangan lutut.
• Demam tinggi disertai muntah-muntah, menggigil, sakit kepala, sakit
perut, serta bintik merah pada kulit seperti penderita demam berdarah.
• Mimisan bisa terjadi pada pasien anak-anak.
• Pada umumnya pada anak hanya berlangsung selama 3 hari.
Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada
perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian. Pada virus DBD akan
ada produksi racun yang menyerang pembuluh darah dan menyebabkan
kematian. Sedangkan pada virus penyebab chikungunya akan memproduksi
virus yang menyerang tulang.
F. Diagnosis Banding dan Diagnosis Pasti
Viral arthropaty diketahui dan dijumpai pada beberapa infeksi virus:
dengue, O’nyong-nyong, chikungunya, Mayaro, Ross River, Sindbis dan
Bermah Forest. Gejala sendi akibat virus ini biasanya hanya berlangsung
singkat seminggu, kecuali pada beberapa kasus Chikungunya. Penyakit ini
banyak kemiripan dengan demam dengue/DHF; hanya saja: serangan demam
lebih singkat; sakit sendi lebih lama dan tidak terjadi kematian.
Chikungunya dicurigai bila seseorang menderita demam mendadak, dengan
beberapa gejala berikut: sakit sendi, sakit kepala, sakit
pinggang/punggung, fotofobia dan rash/ruam kulit; serta dalam seminggu
terakhir berada didaerah terjangkit
Chikungunya. Diagnosis pasti bila terdapat salah satu hal berikut:
1. Pemeriksaan titer antibody naik 4 kali lipat
2. Isolasi virus
3. Deteksi virus dengan PCR
G. Prognosis
Penyakit ini bersifat self limiting diseases, tidak pernah dilaporkan
kejadian kematian. Keluhan sendi mungkin berlangsung lama. Brighton
meneliti pada 107 kasus infeksi Chikungunya, 87,9 % sembuh sempurna;
3,7% mengalami kekakuan sendi atau mild discomfort; 2,8% mempunyai
persisten residual joint stiffnes, tetapi tidak nyeri; dan 5,6%
mempunyai keluhan sendi yang persisten, kaku dan sering mengalami efusi
sendi.
H. Pengobatan
Tidak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Pengobatan
terhadap penderita ditujukan terhadap keluhan dan gejala yang timbul.
Perjalanan penyakit ini umumnya cukup baik, karena bersifat “self
limited disease”, yaitu akan sembuh sendiri dalam waktu tertentu. Tetapi
apabila kecurigaan penyakit adalah termasuk campak atau demam berdarah
dengue, maka perlu kesiapsiagaan tatalaksana yang berbeda, penderita
perlu segera dirujuk apabila terdapat tanda-tanda bahaya.
Bagi penderita sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup
karbohidrat dan terutama protein dapat meningkatkan daya tahan tubuh,
serta minum air putih sebanyak mungkin untuk menghilangkan gejala demam.
Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar (sebaiknya minum jus buah
segar). Vitamin peningkat daya tahan tubuh juga bermanfaat untuk untuk
menghadapi penyakit ini, karena daya tahan tubuh yang bagus dan
istirahat cukup bisa membuat rasa ngilu pada persendian cepat hilang.
Belum ditemukan imunisasi yang berguna sebagai tindakan preventif. Namun
pada penderita yang telah terinfeksi timbul imunitas / kekebalan
terhadap penyakit ini dalam jangka panjang. Pengobatan yang diberikan
umumnya untuk menghilangkan atau meringankan gejala klinis yang ada saja
(symptomatic therapy), seperti pemberian obat panas, obat mual/muntah,
maupun analgetik untuk menghilangkan nyeri sendi.
Contoh:
Penurunan panas atau penghilang nyeri adalah obat non steroid anti
inflamasi (NSAI), pilih salah satu contoh dibawah ini:
Parasetamol, antalgin
Natrium diklofenat
Piroxicam atau ibuprofen.
I. Pencegahan
Pencegahan ditujukan untuk mengendalikan nyamuk dan menghindari gigitan
nyamuk. Pada saat ini belum ada vaksin di pasaran untuk mencegah
Chikungunya. Tindakan pencegahan Chikungunya di daerah dimana terdapat
nyamuk Aedes aegypti adalah menghilangkan tempat dimana nyamuk dapat
meletakkan telurnya, terutama pada tempat penyimpanan air buatan,
misalnya bak mandi, kolam ikan, ban mobil atau kaleng kosong.
Tempat penyimpanan air hujan atau penyimpanan air (kontainer plastik,
drum) hendaknya tertutup rapat. Ban mobil bekas, kaleng kosong sebaiknya
dimusnahkan. Tempat minum hewan peliharaan/burung dan vas bunga
hendaknya dikosongkan atau diganti setidaknya seminggu sekali. Semua
upaya tersebut diharapkan dapat membasmi telur nyamuk dan mengurangi
jumlah nyamuk di daerah tersebut. Pada wisatawan atau juga penduduk di
daerah terjangkit Chikungunya, resiko digigit nyamuk akan berkurang
dengan pemasangan air conditioning atau memasang kasa pada jendela atau
pintu. Memakai repelen yang mengandung 20-30% DEET pada kulit tubuh yang
terbuka atau pakaian akan mengurangi kemungkinan tergigit nyamuk.
Pencegahan Chikungunya ditekankan pada usaha terus-menerus,
berkesinambungan, community based, integrated mosquito control, tidak
boleh terlalu mengandalkan insektisida baik untuk jentik nyamuk maupun
nyamuk dewasa (chemical larvicide atau adulticide).
Pencegahan wabah penyakit memerlukan peran serta masyarakat yang
terkoordinasi dalam usaha meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit
Chikungunya, serta bagaimana mengenali penyakit dan bagaimana
mengendalikan nyamuk yang dapat menularkan/menyebarkan penyakit.
Cara sederhana yang sering dilakukan masyarakat misalnya:
Menguras bak mandi, paling tidak seminggu sekali. Mengingat nyamuk
tersebut berkembang biak dari telur sampai dewasa dalam kurun waktu 7-10
hari.
Menutup tempat penyimpanan air
Mengubur sampah
Menaburkan larvasida.
Memelihara ikan pemakan jentik
Pengasapan
Pemakaian anti nyamuk
Pemasangan kawat kasa di rumah.
Jadi kita semua sebagai calon tenaga kesehatan harus bisa memberikan
penyuluhan ke masyarakat tentang pentingnya Perilaku Hidup bersih dan
Sehat (PHBS) untuk menghindari gigitan nyamuk penyebab Chikungunya.
Selain itu, nyamuk juga menyenangi tempat yang gelap, lembab, dan
pengap. Pintu dan jendela rumah dibuka setiap hari mulai dari pagi
hingga sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga
terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat.
Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari
golongan malation, sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya.
Malation dipakai dengan cara pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke
dinding. Hal ini dikarenakan nyamuk Aedes aegypti tidak suka hinggap di
dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung.
BAB III
KESIMPULAN
1. Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya
yang disebarkan ke manusia melalui gigitan nyamuk. Sebagai penyebar
penyakit adalah nyamuk Aedes aegypti; juga dapat oleh nyamuk Aedes
albopictus. Nama penyakit berasal dari bahasa Swahili yang berarti “yang
berubah bentuk atau bungkuk”, mengacu pada postur penderita yang
membungkuk akibat nyeri sendi yang hebat Masa inkubasi berkisar 1-4
hari, merupakan penyakit yang self-limiting dengan gejala akut yang
berlangsung 3-10 hari.
2. Virus chikungunya merupakan anggota genus Alphavirus dalam family
Togaviridae. Strain asia merupakan genotype yang berbeda dengan yang di
afrika. Virus Chikungunya disebut juga Arbovirus A Chikungunya Type
CHIK, CK.
3. Masa inkubasi dari demam Chikungunya 2-4 hari. Viremia dijumpai
kebanyakan dalam 48 jam pertama, dan dapat dijumpai sampai 4 hari pada
beberapa pasien. Manifestasi penyakit berlangsung 3-10 hari.
4. Gejala chikungunya adalah sbgai brikut :
• Demam
• Sakit Persendian
• Nyeri Otot
• Bercak kemerahan (ruam) pada kulit
• Sakit Kepala
• Kejang dan Penularan Kesadaran
5. Diagnosis demam chikungunya adalah sbb:
Demam Chikungunya dikenal sebagai flu tulang (break-bone fever) dengan
gejala mirip dengan demam dengue, tetapi lebih ringan dan jarang
menimbulkan demam berdarah. Artralgia, pembuluh darah konjungtiva tampak
nyata, dengan demam mendadak yang hanya berlangsung 2-4 hari.
Pemeriksaan serum penderita untuk uji netralisasi menunjukkan adanya
antibodi terhadap virus Chikungunya.
6. Pengobatan chikungunya adalah sbb:
• Tidak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Pengobatan
terhadap penderita ditujukan terhadap keluhan dan gejala yang timbul.
• Penurunan panas atau penghilang nyeri adalah obat non steroid anti
inflamasi (NSAI), pilih salah satu contoh dibawah ini:
• Parasetamol, antalgin
• Natrium diklofenat
• Piroxicam atau ibuprofen
7. Pencegahan penyakit chikungunya adalah sbb:
Tindakan pencegahan Chikungunya di daerah dimana terdapat nyamuk Aedes
aegypti adalah menghilangkan tempat dimana nyamuk dapat meletakkan
telurnya, terutama pada tempat penyimpanan air buatan, misalnya bak
mandi, kolam ikan, ban mobil atau kaleng. dll
DAFTAR PUSTAKA
Budiarto, Eko. 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : EGC
Dr. Nasronudin, dr., SpPD, K-PTI, “Penyakit Infeksi di Indonesia”, 2007,
Air langga
University Press, Surabaya
Soedarto.,2007 SINOPSIS KEDOKTERAN TROPIS, (251-252)
http://mikrobia.wordpress.com/2007/05/17/alphavirus-penyebab-chikungunya/
http://ms.wikipedia.org/wiki/Demam_Chikungunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar